Sebelumnya, Trump telah meminta Netanyahu untuk mengurangi intensitas serangan ke Lebanon. Hal ini berkaitan dengan kesepakatan gencatan senjata yang sempat diumumkan Trump pasca-pertemuan perwakilan Lebanon dan Israel di Washington pada 16 April lalu. Namun, perjanjian tersebut terbukti rapuh. Israel terus melancarkan serangan harian terhadap puluhan permukiman di Lebanon selatan dan mempertahankan kendali tembakan di kawasan perbatasan. Sebagai balasan, kelompok Hizbullah tetap melancarkan operasi militer terhadap pasukan Israel.
Ancaman Baru dari Iran Memperkeruh Situasi
Situasi semakin pelik dengan munculnya reaksi keras dari Iran. Pada hari yang sama, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran akan menghentikan seluruh negosiasi dengan AS. Iran bahkan mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap Israel jika rezim tersebut tidak segera menyetop aksi permusuhan di wilayah Lebanon.
Situasi ini menempatkan upaya diplomatik Trump di bawah tekanan hebat. Ia harus menghadapi keras kepala Netanyahu sekaligus ancaman eskalasi terbuka dari Iran.
Artikel Terkait
Media Singapura Sebut Jakarta Mirip Gotham City, Tapi Turis Tetap Berburu Belanja Murah Gegara Rupiah Anjlok
Analisis Citra Satelit: Serangan Balasan Iran Hancurkan 20 Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Termasuk Sistem THAAD
Media Malaysia Soroti Rencana Indonesia Beli Kapal Perusak Turki: Langkah Menuju Dominasi Maritim
Iran Berhasil Tembak Jatuh Jet Tempur F-15E AS dengan Rudal China, Dua Pilot Selamat