Sebelumnya, Trump telah meminta Netanyahu untuk mengurangi intensitas serangan ke Lebanon. Hal ini berkaitan dengan kesepakatan gencatan senjata yang sempat diumumkan Trump pasca-pertemuan perwakilan Lebanon dan Israel di Washington pada 16 April lalu. Namun, perjanjian tersebut terbukti rapuh. Israel terus melancarkan serangan harian terhadap puluhan permukiman di Lebanon selatan dan mempertahankan kendali tembakan di kawasan perbatasan. Sebagai balasan, kelompok Hizbullah tetap melancarkan operasi militer terhadap pasukan Israel.
Ancaman Baru dari Iran Memperkeruh Situasi
Situasi semakin pelik dengan munculnya reaksi keras dari Iran. Pada hari yang sama, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran akan menghentikan seluruh negosiasi dengan AS. Iran bahkan mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap Israel jika rezim tersebut tidak segera menyetop aksi permusuhan di wilayah Lebanon.
Situasi ini menempatkan upaya diplomatik Trump di bawah tekanan hebat. Ia harus menghadapi keras kepala Netanyahu sekaligus ancaman eskalasi terbuka dari Iran.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan