Kronologi Ketegangan Timur Tengah
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan.
AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April sebelum menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri konflik militer dan membuka jalan menuju perjanjian damai yang lebih permanen. Namun, kesepakatan itu runtuh bulan lalu setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan.
Seruan Jusuf Kalla untuk Dialog dan Diplomasi
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), meminta negara-negara Islam mengedepankan dialog dan diplomasi agar konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka. Hal ini diutarakan JK di sela-sela Kongres Umat Islam ke-VIII di Jakarta, Ahad. Ia menyebut situasi Timur Tengah yang kembali memanas merupakan hal yang sangat disayangkan, terlebih sebelumnya terdapat harapan setelah adanya kesepakatan antara Iran dan AS.
"Kita sangat sayangkan apa yang terjadi makin meluas. Semula kita bergembira bahwa sudah ada kesepakatan antara Iran dengan Amerika, tapi buyar lagi, malah makin meluas," katanya.
Ketua Dewan Masjid Indonesia itu menilai negara-negara Arab dan negara Islam lainnya perlu mengambil peran untuk mendorong penyelesaian konflik melalui perdamaian. Ia juga mengingatkan pihak-pihak yang bertikai agar menahan diri dan mengutamakan penyelesaian secara politik.
"Kita harapkan dari Timur Tengah sendiri, negara-negara Arab juga berusaha untuk mendamaikan masing-masing," ujarnya.
Peran Indonesia dalam Perdamaian Global
Jusuf Kalla juga menyoroti konflik yang terjadi di Yaman, termasuk ketegangan antara kelompok Houthi dan Pemerintah Yaman. Ia berharap seluruh pihak dapat menahan diri serta membangun kembali persatuan internal agar tidak memperburuk kondisi kawasan.
Selain itu, ia meminta negara-negara lain yang memiliki pengaruh di kawasan untuk tidak memperluas konflik ke wilayah negara lain. Ia menekankan pentingnya penghentian kekerasan sebagai langkah awal menuju perdamaian.
Ketua Umum Palang Merah Indonesia itu menegaskan bahwa dialog menjadi kunci utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan antarnegara Islam. JK menyebut organisasi-organisasi internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan negara-negara Islam dan mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Jusuf Kalla menilai Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendorong terciptanya perdamaian. Ia menegaskan Indonesia tetap konsisten mendukung perdamaian, termasuk terkait konflik yang terjadi di Palestina dan berbagai wilayah Timur Tengah lainnya.
"Indonesia tentu mendukung perdamaian, sangat mendukung perdamaian. Apa yang terjadi di Palestina, apa yang terjadi di Timur Tengah merupakan suatu musibah," tutur Jusuf Kalla.
Artikel Terkait
Patung Figuratif Wanita di Pameran Desert X AlUla: Kontroversi Tabu Seni Islam vs Dialog Budaya
Gempa M7,1 Jepang: Pencarian Korban Dihentikan, Korban Tewas Capai 36 Orang
Iran Klaim Hancurkan 3 Jet Tempur F-35 AS di Yordania, Eskalasi Konflik Timur Tengah Kian Memanas
14 Tentara Israel Dihukum Penjara Usai Desersi Massal di Pangkalan Sde Teiman