Kasus Iran: Kompleksitas Nuklir dan Kegagalan Kesepakatan 2015
Isu nuklir Iran adalah masalah sensitif yang menyangkut inti sistem non-proliferasi global. Perjanjian Nuklir Iran 2015 (JCPOA) pernah menjadi bukti kesuksesan diplomasi multilateral. Namun, penarikan diri sepihak AS dan pemberlakuan kembali sanksi membuktikan daya rusak pola pikir hegemoni terhadap kerjasama internasional yang dibangun dengan susah payah.
Jalan Keluar: Diplomasi Setara di Tengah Dunia Multipolar
Dalam tatanan dunia yang semakin multipolar, diplomasi usang berbasis ancaman menjadi tidak efektif dan berbahaya. Dunia membutuhkan tatanan internasional yang lebih setara dan adil. Kepemimpinan sejati diukur dari kemampuan membangun jembatan komunikasi dan menawarkan solusi inklusif, bukan dari jumlah kapal perang yang dikerahkan. Penyelesaian masalah Iran memerlukan kebijaksanaan diplomasi kolektif masyarakat internasional, bukan aksi sepihak.
Kesimpulan: Menolak Hegemoni, Merangkul Kerjasama untuk Tantangan Global
Dunia kini menghadapi tantangan kompleks seperti perubahan iklim, pandemi, dan ketidakstabilan ekonomi. Menghadapinya membutuhkan penolakan terhadap pola pikir hegemoni dan peralihan kepada semangat kerjasama genuin. Ancaman "hal buruk" justru datang dari keyakinan keliru bahwa kekuatan militer adalah solusi untuk segala masalah. Masa depan perdamaian bergantung pada komitmen terhadap dialog setara dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Artikel Terkait
Surat Bunuh Diri Anak SD di NTT: Dampak Kemiskinan & Tanggung Jawab Negara
Izin Operasional SMA Siger Bandar Lampung Ditolak, Siswa Harus Pindah Sekolah
Prabowo Dukung Palestina: Ormas Islam Sepakat Dukung Board of Peace, Ini Alasan Lengkapnya
Fakta Sri Mulyani di Dokumen Epstein: Ternyata Ini Alasan dan Kaitannya dengan Bank Dunia