Melalui kegiatan ini, GP Ansor berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang perjumpaan yang memperkuat kohesi sosial, membangun saling pengertian, serta menolak polarisasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
Apresiasi dari Komunitas Tionghoa Indonesia
Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Hasan Karman, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif GP Ansor yang menghadirkan perayaan sebagai jembatan persaudaraan dan dialog lintas budaya.
“Akulturasi adalah kekuatan Indonesia, ketika perbedaan tidak dijadikan jarak, melainkan dipertemukan menjadi kerja sama, saling menghormati, dan saling menjaga,” tegas Hasan Karman. Ia menekankan bahwa dalam semangat Pancasila, perbedaan adalah peluang untuk membangun kolaborasi.
Ruang Perjumpaan dan Akulturasi Kuliner
Dalam acara tersebut, GP Ansor juga menghadirkan bincang santai bertema Imlek sebagai jembatan persaudaraan. Akulturasi budaya turut ditampilkan melalui sajian kuliner yang mencerminkan pertemuan berbagai tradisi. Salah satu simbol yang diangkat adalah bakso, sebagai wujud asimilasi kuliner yang telah diterima luas oleh berbagai komunitas di Indonesia.
Perayaan Imlek 2577 Kongzili oleh GP Ansor ini menjadi simbol nyata bahwa harmoni dan kerukunan nasional dapat terus dirawat melalui kebersamaan, dialog, dan penghormatan terhadap identitas masing-masing dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri