Wamenag menilai tidak adil jika semua orang dipaksa merasakan hal yang sama hanya karena sebagian masyarakat sedang berpuasa. “Tidak mungkin gara-gara kita puasa, semuanya harus merasakan puasa. Yang tidak puasa karena keyakinan berbeda tidak bisa makan dan minum. Ini harus dipertimbangkan dalam membangun kebersamaan,” paparnya.
Menanggapi isu rencana sweeping oleh ormas tertentu, Romo menegaskan bahwa tidak ada rencana aksi semacam itu. “Tidak ada, tidak ada sweeping-sweeping. Itulah bentuk penghormatan kita bahwa selain kita yang berpuasa, masih ada saudara kita yang tidak berpuasa,” katanya dengan tegas.
Koridor Kebersamaan untuk Persatuan Bangsa
Di akhir pernyataannya, Romo Muhammad Syafi’i menekankan pentingnya membangun koridor kebersamaan. Tujuannya agar perbedaan keyakinan dan praktik ibadah tidak merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
“Harus dibangun suasana saling menghormati, sehingga persatuan kita tidak terganggu karena perbedaan,” pungkas Wamenag.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri