Impor Beras AS 1.000 Ton: Kontradiksi Swasembada 2025 & Program Food Estate?

- Jumat, 27 Februari 2026 | 09:00 WIB
Impor Beras AS 1.000 Ton: Kontradiksi Swasembada 2025 & Program Food Estate?

Impor Beras AS 1.000 Ton: Anomali di Tengah Klaim Swasembada dan Program Food Estate?

Indonesia sepakat mengimpor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat setiap tahun sebagai bagian dari perjanjian perdagangan timbal balik. Kesepakatan yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump ini memantik pertanyaan besar. Apakah langkah ini menjadi anomali di tengah klaim swasembada beras yang baru dicapai Indonesia pada 2025 dan program lumbung pangan (food estate) yang masif?

Klaim Pemerintah: Impor Sangat Kecil dan Tidak Ganggu Produksi

Pemerintah menegaskan bahwa impor beras dari AS bersifat sangat kecil dan tidak mengganggu produksi domestik. Menurut Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, komitmen 1.000 ton itu hanya sekitar 0,00003% dari total produksi beras nasional tahun 2025 yang mencapai 34,69 juta ton.

Impor ini mencakup beragam kategori beras khusus seperti gabah, beras lepas kulit, beras putih pecah (menir), serta varietas premium seperti beras ketan, japonica, dan basmati. Pemerintah menekankan bahwa realisasi impor akan bergantung pada permintaan pasar dalam negeri dan tidak otomatis dilakukan.

Paket Perjanjian Lebih Luas: Nilai Capai US$4,5 Miliar

Kesepakatan impor beras ini merupakan bagian dari paket impor komoditas pertanian AS yang lebih besar, dengan nilai total mencapai US$4,5 miliar (sekitar Rp75 triliun). Selain beras, Indonesia juga membuka akses untuk:


  • Kedelai (3,5 juta ton)

  • Tepung kedelai (3,8 juta ton)

  • Gandum (2 juta ton)

  • Daging sapi (50.000 ton per tahun)

  • Jagung (lebih dari 100.000 ton)

  • Kapas, apel, jeruk, etanol, dan anggur.


Bagi AS, perjanjian ini dianggap bersejarah karena menghapus hambatan tarif dan non-tarif untuk ekspor produk pertanian mereka ke Indonesia.

Konteks Swasembada Beras 2025 dan Rencana Ekspor

Latar belakang kesepakatan ini semakin kompleks dengan klaim swasembada beras yang diumumkan pemerintah pada akhir 2025. Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi beras tahun 2025 mencapai 34,34 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi 30,97 juta ton, sehingga terjadi surplus. Tidak ada impor beras sama sekali pada tahun tersebut.

Bahkan, Indonesia bersiap mengekspor beras. Ekspor perdana 2.280 ton beras ke Arab Saudi senilai Rp150 miliar rencananya dilakukan pada 28 Februari 2026, dengan rencana ekspansi ke Malaysia dan negara lain.


Halaman:

Komentar