Salah satu tekanan datang dari Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN, Primus Yustisio. Dalam rapat kerja bersama Komisi XI dengan Bank Indonesia pada hari yang sama, Primus mendesak Perry untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Primus menilai kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan anomali. Kurs rupiah terus melemah meskipun data kinerja ekonomi menunjukkan pertumbuhan mencapai 5,61% pada kuartal I 2026.
"Menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust dan menyampingkan kredibilitasnya," tegas Primus dalam rapat bersama Bank Indonesia di DPR.
Panggilan Sebelumnya ke Istana
Sebelumnya, Perry juga dipanggil menghadap Presiden Prabowo ke Istana pada 5 Mei lalu ketika kurs rupiah menembus 17.400 per dolar AS. Saat itu, ia hadir bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya, yakni Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, dan Menteri Keuangan Purbaya.
Data Pergerakan Kurs Rupiah
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah hari ini ditutup melemah 0,4% ke level 17.666 per dolar AS. Rupiah dibuka di level 17.628 per dolar AS dan sempat bergerak di rentang 17.627 hingga 17.684 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan eksternal seiring aksi investor yang melepas aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Pernyataan Kontroversial Presiden Prabowo soal Dolar
Pelemahan rupiah terjadi hanya berselang sehari setelah pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto. Dalam acara peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5), Prabowo menyebut pelemahan dolar AS tidak berdampak pada warga desa.
"Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar," ujar Prabowo dalam sambutannya yang dipantau secara daring melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden.
Presiden juga menuding pihak yang khawatir dan pusing terkait kurs rupiah adalah orang-orang yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Ia meyakini ekonomi Indonesia dan fundamentalnya tetap kuat. "Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita," pungkasnya.
Artikel Terkait
Optimasi Pipeline Deployment Contact Center untuk Operasi Andal dan Skalabel
TNI AD Diadili: Tuntutan 12 Tahun Penjara untuk Oknum TNI Pembunuh Kacab Bank BUMN
Profil AKP Yohanes Bonar: Kasat Narkoba Polres Kukar Resmi Jadi Tersangka Peredaran Narkotika Golongan II
Viral! Warung Bakso di Klaten Kenakan Biaya AC Rp3.000 Per Orang, Manajemen Minta Maaf