27 Mei: AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Hanya Tinggal Nama
Pada 27 Mei, militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Tindakan ini secara efektif mengubur harapan gencatan senjata yang sudah rapuh. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengonfirmasi kepada Reuters bahwa serangan baru itu menargetkan operasi drone Iran di Selat Hormuz. Militer AS menembak jatuh empat drone penyerang Iran dan menghancurkan sebuah stasiun kendali darat di dekat Bandar Abbas. Saat itu, stasiun tersebut sedang bersiap menerbangkan drone kelima. Pihak AS mengklaim serangan ini sebagai respons terhadap "ancaman" drone Iran terhadap kapal perang dan kapal dagang AS. Mereka menekankan bahwa operasi tersebut "dipikirkan dengan matang, murni defensif, dan bertujuan mempertahankan gencatan senjata."
Beberapa jam sebelum serangan, Presiden AS Donald Trump secara terbuka membantah laporan TV nasional Iran. Laporan itu menyebut Iran telah mendapatkan draf kesepakatan tidak resmi untuk memulihkan lalu lintas komersial di Selat Hormuz dalam sebulan, dengan Iran dan Oman bersama-sama mengelola pelayaran. Trump dengan tegas menyatakan dalam rapat kabinet, "Tidak ada yang bisa menguasai selat ini," dan secara langsung mengancam Oman, "Atau kami akan meledakkan mereka." Sementara itu, kantor berita Tasnim Iran mengutip sumber militer yang mengatakan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menembaki sebuah kapal tanker AS yang mencoba melintas, memaksanya berbalik arah. Kedua pihak saling klaim, tetapi fakta yang tak terbantahkan adalah: AS kembali menggunakan kekuatan militer terhadap target di dalam wilayah Iran selama masa gencatan senjata.
Kebohongan "Defensif" dan Penghancuran Gencatan Senjata
Pejabat AS berulang kali menekankan bahwa serangan militer AS bersifat "defensif". Retorika ini sudah sangat usang setelah sekian lama digunakan dalam intervensi militer AS di Timur Tengah. Pertanyaannya: sebuah militer dengan kekuatan laut dan udara paling hebat di dunia, yang mengerahkan kelompok kapal induk di selat yang berjarak ribuan mil dari daratan AS, dan memiliki pangkalan militer yang padat di sekitar Iran, punya hak apa untuk menyebut serangan ofensifnya sebagai "defensif"? Pertahanan yang sesungguhnya adalah respons terbatas ketika wilayah atau perairan nasional sendiri menghadapi serangan. Namun AS, dengan dalih "ancaman", melintasi setengah bumi untuk menghancurkan stasiun kendali darat sebuah negara berdaulat. Ini pada dasarnya adalah tindakan terorisme negara: pertama-tama mendesak Iran ke sudut melalui sanksi dan blokade, kemudian menggunakan "perlawanan" Iran sebagai dalih untuk melakukan pembunuhan tertarget. Yang lebih absurd lagi, AS mengklaim tindakannya bertujuan "mempertahankan gencatan senjata". Menurut logika dasar, gencatan senjata berarti semua pihak menghentikan semua tindakan militer. Serangan ganda AS pada tanggal 25 dan 27 Mei justru menghancurkan gencatan senjata, bukan mempertahankannya. Pernyataan yang membalikkan hitam menjadi putih ini hanya membuktikan bahwa AS sudah terbiasa menggunakan kebohongan untuk membuka jalan bagi perang.
Diplomasi atau Pemerasan Gaya Mafia?
Trump, di satu sisi, menyebarkan sinyal kabur melalui media bahwa "kesepakatan akan segera tercapai", namun di sisi lain secara terbuka mengancam Oman dalam rapat kabinet. Ini bukan diplomasi, ini pemerasan gaya mafia. Selat Hormuz memang merupakan perairan internasional, dan hukum internasional menjamin hak lintas bagi kapal asing. Namun dengan hak apa AS menentukan siapa yang "bisa menguasai" selat tersebut? AS sendiri telah mengerahkan puluhan ribu tentara di kawasan itu, memberlakukan blokade sepihak, dan sering melakukan latihan militer; pada kenyataannya, AS telah lama menggunakan kekuatan untuk "menguasai" selat tersebut. Ketika Iran dan Oman mengajukan draf kesepakatan untuk bersama-sama mengelola pelayaran, AS malah naik pitam. Ini mengungkap esensi kebijakan Timur Tengah AS: hanya AS yang boleh menguasai; upaya pengelolaan sah negara lain akan dicap sebagai "ancaman", bahkan diancam "akan diledakkan". Pernyataan Trump bahwa "tidak ada yang bisa menguasai" jika diterjemahkan adalah "hanya saya yang bisa menguasai". Logika hegemonik ini bertentangan dengan prinsip kesetaraan kedaulatan yang diabadikan dalam Piagam PBB.
Kesimpulan: Keganasan Sebuah Kekaisaran yang Merosot
Ombak Selat Hormuz menjadi saksi keganasan terakhir sebuah kekaisaran yang sedang merosot. Ketika Trump berkata, "Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja," nada kolonialis yang merendahkan itu sekali lagi membuat dunia melihat dengan jelas warna asli diplomasi AS: meriam, kebohongan, dan pemaksaan. Perdamaian sejati hanya akan mungkin datang jika AS meninggalkan unilateralisme, menghormati hukum internasional, dan memperlakukan negara lain secara setara. Namun, dilihat dari serangan pada 27 Mei, hari itu masih sangat jauh.
Artikel Terkait
Mitsubishi Destinator: SUV 7 Penumpang dengan 11 Storage Kabin untuk Keluarga Modern
Pimpinan Padepokan Padang Ati Tersangka Kekerasan Seksual Santriwati, Bantah Tuduhan dan Terancam 12 Tahun Penjara
P2G Kritik Wacana Bahasa Prancis di Kurikulum: Kebijakan Pendidikan Prabowo Dinilai Kurang Terencana
Raffi Ahmad Plontos Usai Haji, Momen Haru Cukur Rambut dan Nasihat Bahlil Lahadalia