"Setelah saya pimpin, konflik intoleransi sudah makin redup. Insya Allah, Jawa Barat adalah provinsi yang terbuka. Coba lihat, provinsi mana yang seterbuka Jawa Barat?" kata dia.
KDM menegaskan bahwa hanya Jawa Barat yang benar-benar terbuka bagi masyarakat dari luar daerah. Oleh karena itu, label "bar bar" tidak pantas disematkan pada provinsi ini.
"Tidak ada kata 'bar' untuk Jawa Barat. Buktinya, semua orang bisa hidup di sini dengan nyaman," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tidak pernah terjadi konflik antar suku di Jawa Barat, sehingga pernyataan Abu Janda terbantahkan oleh kehidupan masyarakat yang harmonis. Dedi menyebut bahwa masalah intoleransi yang muncul biasanya hanya terkait konflik rumah ibadah.
"Yang sering jadi sorotan adalah konflik rumah ibadah. Tapi itu pun bisa diselesaikan dengan pendekatan yang harmonis," jelasnya.
Dedi Mulyadi optimis bahwa semua permasalahan dapat diselesaikan dengan semangat harmoni dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas masyarakat Jawa Barat.
Artikel Terkait
Prada Arif Tewas dengan 10 Luka Tusuk di Tangerang, Polisi Tangkap 4 Pelaku dalam 24 Jam
Hasto Kristiyanto Kritik Keras Pelibatan Babinsa Awasi Pajak: Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gibran Duduk di Kursi Menteri Saat Sidang Kabinet: Isyarat Politik atau Sekadar Teknis?