Merespons situasi yang berpotensi meluas, Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, bersama Komandan Kodim (Dandim) 0412 Lampung Utara, Letkol Infanteri Roni Faturohman, langsung turun tangan pada malam harinya. Mereka memimpin proses mediasi darurat untuk meredakan ketegangan.
Pertemuan rekonsiliasi yang digelar secara tertutup ini turut dihadiri oleh pihak keluarga korban, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta unsur Forkopimda terkait. Semua pihak sepakat untuk mencari solusi terbaik demi keamanan dan ketertiban bersama.
Tokoh adat sekaligus tokoh masyarakat Desa Pekurun, Hi Hanafi yang bergelar Tuan Suttan Rajo Pengeran, menyampaikan rasa prihatinnya yang mendalam atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa Bendungan Way Rarem selama ini dikenal sebagai ruang publik yang aman dan menjadi tempat favorit warga untuk bersantai bersama keluarga.
Hanafi menilai, apabila terdapat perilaku remaja setempat yang dianggap kurang sesuai, aparat seharusnya mengedepankan tindakan persuasif. "Penyelesaiannya seharusnya dilakukan melalui pendekatan persuasif dan dialog yang baik dari hati ke hati, bukan justru langsung direspons dengan tindakan kekerasan fisik," ujar Hanafi saat memberikan keterangan.
Pasca mediasi panjang yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dan jajaran TNI, kedua belah pihak akhirnya legawa. Mereka sepakat untuk melupakan ego masing-masing dan menempuh jalur perdamaian demi menjaga keharmonisan di wilayah Lampung Utara.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri