Mahasiswa Beri Tenggat 18 Hari, Ancam Demo Reformasi Jilid 2 Jika Pelemahan Rupiah Tak Diatasi

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:25 WIB
Mahasiswa Beri Tenggat 18 Hari, Ancam Demo Reformasi Jilid 2 Jika Pelemahan Rupiah Tak Diatasi

Ia mendesak Presiden Prabowo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur BI Perry Warjiyo untuk segera menyusun kebijakan konkret guna menguatkan rupiah dan menstabilkan ekonomi. Mahasiswa khawatir subsidi BBM yang saat ini masih menopang harga relatif stabil bisa terancam jika APBN kelebihan beban, berpotensi memicu lonjakan harga kebutuhan pokok yang memberatkan rakyat.

M. Kailani Rizqi Pratama, Ketua BEM Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, menambahkan bahwa BEM SI Jateng memberi tenggat 18 hari bagi pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Selama masa itu, mahasiswa berencana mengajak diskusi dan mengedukasi masyarakat tentang risiko ekonomi lebih lanjut, termasuk potensi rupiah melemah hingga Rp25.000 per dolar AS.

"Apabila tuntutan itu tidak dipenuhi, mahasiswa mempertimbangkan menggelar demonstrasi besar-besaran bertajuk Reformasi Jilid 2," tegas Kailani. Ia menambahkan, mahasiswa tidak mengharapkan reformasi jilid dua terjadi, tetapi akan melakukannya jika kondisi ekonomi tidak membaik dalam waktu dekat.

Respons Bank Indonesia Terhadap Ancaman Demo Mahasiswa

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi tensi geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta arus keluar modal asing. BI terus melakukan intervensi di pasar, termasuk melalui transaksi NDF, DNDF, dan pembelian SBN, serta mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral untuk menstabilkan nilai tukar.

Aksi mahasiswa ini menjadi sinyal kuat kekhawatiran generasi muda terhadap stabilitas ekonomi di tengah berbagai tantangan global dan domestik. Pemerintah dan BI diharapkan segera merespons tuntutan mahasiswa sebelum tenggat 18 hari berakhir, guna mencegah eskalasi aksi demonstrasi yang lebih besar.


Halaman:

Komentar