Insiden ini dinilai tidak mencerminkan semangat demokrasi yang menjunjung kebebasan berpendapat. "Kami di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo bersikap demokratis dan menghargai semua pendapat. Tentu harus saling menghormati," tuturnya.
Situasi memanas saat terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik terhadap Sudaryono. "Ada yang lempar air dan memukul pundak saya. Saya merasa sudah tidak aman, akhirnya kami keluar," katanya. Rombongan juga dicegat saat hendak pulang. "Di mobil kami dicegat dan dicari-cari. Karena itu, kami keluar," tambahnya.
Meski demikian, Sudaryono tetap membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan kelompok masyarakat. "Kami ingin diskusi. Mana yang salah, mana yang benar, mana yang harus diperbaiki, kami siap," ujarnya. Ia bahkan siap kembali jika diundang. "Saya siap diundang lagi, di Jakarta atau Yogyakarta, yang penting kita diskusi," tegasnya.
Sudaryono mengapresiasi peserta yang ingin berdialog dan menyampaikan pandangan. "Sebagian besar ingin mendengar dan bertanya. Itu baik, tapi karena ada sekelompok orang, akhirnya tidak berjalan," katanya. Pemerintah berkomitmen membuka ruang dialog dengan semua elemen masyarakat. "Ini bukti bahwa kami, Pak Nusron, Pak Budiman, dan Presiden Prabowo beserta perangkat pemerintahan bersikap demokratis dan siap berdialog dengan siapa pun," pungkasnya.
Artikel Terkait
Roy Suryo Ajukan Praperadilan Jilid IV ke PN Jaksel: Fokus Gugat Pencekalan Kasus Ijazah Jokowi
707 Siswa dan Guru SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan Makanan MBG, BGN Suspensi Operasional SPPG Karangturi
Diding Boneng Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun: Aktor Legendaris Warkop DKI & Bintang KKN di Desa Penari Berpulang
Pagar Tinggi di Mal Jabodetabek: Bukti Pelaku Usaha Tak Percaya Aparat Keamanan, Kata Pengamat