Saat ini, sudah ada GP-Gibran (Garda Pemuda Generasi Indonesia Bersatu untuk Rakyat dan Nusantara) yang dipimpin oleh Perri Sibarani. Organisasi ini mengklaim telah terbentuk di 38 provinsi, menjangkau hampir setengah dari 416 kota atau kabupaten, dan memiliki sekitar 10 ribu anggota. Mereka secara terbuka menyatakan tujuan untuk mendorong Gibran menjadi Presiden ke-9 Republik Indonesia.
Selain itu, muncul pula Militan Gibran Nusantara (MGN) yang dipimpin oleh Andi Azwan. Organisasi yang dideklarasikan pada 20 Mei 2026 di Jakarta ini juga telah membentuk kepengurusan di 38 provinsi dengan target memperluas jaringan hingga seluruh Indonesia. Fokus utama MGN adalah mengawal program pemerintahan Prabowo-Gibran serta mendukung visi Indonesia Emas 2045. Menariknya, banyak pengurusnya berasal dari jaringan relawan Jokowi, termasuk Andi Azwan yang merupakan mantan Wakil Ketua Joman.
Ada pula Gibranisti, sebuah komunitas relawan yang lebih cair dan berbasis dukungan akar rumput, terutama melalui media sosial dan aktivitas komunitas. Meskipun tidak seformal GP-Gibran atau MGN, kelompok ini tetap aktif membangun citra politik Gibran sebagai figur muda penerus Jokowi.
Apakah kemunculan relawan-relawan ini otomatis membuktikan bahwa Prabowo dan Gibran sedang retak? Tentu tidak. Itu adalah dua hal yang berbeda. Namun, fakta bahwa sudah ada organisasi yang secara terbuka menyiapkan jalan politik Gibran menuju Pilpres berikutnya menjadi dinamika menarik untuk diamati. Apalagi, GP-Gibran secara eksplisit menyebut target menjadikan Gibran sebagai Presiden ke-9 RI.
Di sinilah netizen mulai menambahkan bumbu. Posisi duduk berubah, relawan bertambah, lalu semuanya diracik menjadi semangkuk teori konspirasi rasa ekstra pedas. Sherlock Holmes mungkin hanya memecahkan kasus pembunuhan, tetapi netizen Indonesia mampu menyusun skenario politik nasional hanya bermodal foto rapat berdurasi beberapa detik.
Bisa saja perpindahan kursi itu murni persoalan teknis protokol. Bisa juga sekadar pengaturan tempat duduk. Namun, selama politik Indonesia masih menjadi panggung penuh simbol, setiap detail sekecil apa pun akan terus ditafsirkan.
Yang pasti, hingga hari ini pemerintahan tetap berjalan. Prabowo tetap memimpin rapat. Gibran tetap menjalankan tugas sebagai wakil presiden. Program-program pemerintah tetap dievaluasi. Klaim penyelesaian lebih dari 110 persoalan tetap disampaikan. Jadi, untuk sementara ini, yang benar-benar bergeser hanyalah kursinya. Soal apakah nanti politik ikut bergeser, biarlah waktu yang menjawab, bukan sekadar posisi furnitur di ruang sidang.
Artikel Terkait
Prada Arif Tewas dengan 10 Luka Tusuk di Tangerang, Polisi Tangkap 4 Pelaku dalam 24 Jam
Hasto Kristiyanto Kritik Keras Pelibatan Babinsa Awasi Pajak: Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gus Miftah Dituduh Terima Dana Korupsi Kereta Api Rp100 Juta, Akui Bisa Lupa