Efriza menyoroti langkah terbaru Presiden Prabowo yang memilih turun langsung melakukan diplomasi dengan Jepang hingga Rusia untuk mengamankan stok minyak dan gas nasional. Langkah ini dinilai sebagai indikasi menurunnya kepercayaan Presiden terhadap Bahlil.
"Jadi serba salah menempatkan Bahlil. Presidennya cenderung ragu, opini publik sentimennya negatif. Masa pemerintah membiarkan citranya berpolemik, padahal negosiasi soal sektor energi dan investasi amat dibutuhkan saat ini dan harus berhasil," kritiknya.
Di sisi lain, Efriza menilai Presiden Prabowo sengaja turun langsung sebagai strategi geopolitik untuk menghindari polemik karena Bahlil dinilai tidak dapat diandalkan.
"Lalu untuk apa dipertahankan? Sebaiknya (Bahlil) di-reshuffle. Artinya, dipercaya atau tidaknya Bahlil untuk urusan kerja sama energi cenderung akan berpolemik," tutup Efriza.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia