Efriza menyoroti langkah terbaru Presiden Prabowo yang memilih turun langsung melakukan diplomasi dengan Jepang hingga Rusia untuk mengamankan stok minyak dan gas nasional. Langkah ini dinilai sebagai indikasi menurunnya kepercayaan Presiden terhadap Bahlil.
"Jadi serba salah menempatkan Bahlil. Presidennya cenderung ragu, opini publik sentimennya negatif. Masa pemerintah membiarkan citranya berpolemik, padahal negosiasi soal sektor energi dan investasi amat dibutuhkan saat ini dan harus berhasil," kritiknya.
Di sisi lain, Efriza menilai Presiden Prabowo sengaja turun langsung sebagai strategi geopolitik untuk menghindari polemik karena Bahlil dinilai tidak dapat diandalkan.
"Lalu untuk apa dipertahankan? Sebaiknya (Bahlil) di-reshuffle. Artinya, dipercaya atau tidaknya Bahlil untuk urusan kerja sama energi cenderung akan berpolemik," tutup Efriza.
Artikel Terkait
Ray Rangkuti Sindir Reshuffle Kelima Prabowo: Hanya Putar Posisi, Minim Figur Baru
Anggaran Pakaian Dinas Pemprov Sumsel Rp3 Miliar Disorot, Gubernur Herman Deru Buka Suara
Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman: Konflik Timur Tengah 2 Bulan Tak Ganggu Pasokan Energi Indonesia
Harta Kekayaan Hasan Nasbi Tembus Rp40,43 Miliar, Ini Rincian LHKPN Terbarunya