Ray Rangkuti Sindir Reshuffle Kelima Prabowo: Hanya Putar Posisi, Minim Figur Baru

- Selasa, 28 April 2026 | 07:50 WIB
Ray Rangkuti Sindir Reshuffle Kelima Prabowo: Hanya Putar Posisi, Minim Figur Baru

Ray Rangkuti Sentil Reshuffle Kelima Kabinet Prabowo: Hanya Putar Posisi, Minim Perubahan

Langkah Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet untuk kelima kalinya menuai sorotan tajam dari Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti. Ia menilai perombakan susunan kabinet kali ini belum menunjukkan arah pembaruan yang signifikan.

Menurut Ray Rangkuti, pergantian pejabat dalam reshuffle terbaru justru memperlihatkan pola lama. Figur yang sama dipindahkan ke posisi berbeda atau kembali masuk pemerintahan setelah sebelumnya dicopot. Hal ini dinilai tidak memberikan dampak positif bagi kinerja kabinet.

Sindiran 'I Tu Si' atau Itu-Itu Saja

Ray Rangkuti membuka komentarnya dengan istilah khas Mandailing untuk menggambarkan situasi reshuffle terbaru. "Mengutip istilah orang Mandailing: i tu si. Artinya itu itu saja. Begitulah situasi reshuffle yang baru saja dilakukan oleh presiden Prabowo. Mengangkat kembali orang yang pernah diberhentikan, lalu merotasi yang lain dari satu tempat ke tempat lainnya," jelas Ray dalam pernyataan tertulisnya.

Ia menilai perombakan kabinet ini belum memberi kejutan politik karena wajah-wajah yang muncul masih berasal dari lingkaran lama kekuasaan. Hal ini menunjukkan kurangnya inovasi dalam tata kelola pemerintahan.

Jumhur Hidayat Satu-satunya Figur Baru

Dalam pandangan Ray Rangkuti, hanya satu nama yang benar-benar tampil sebagai sosok baru dalam susunan kabinet hasil reshuffle tersebut. "Satu-satunya yang baru hanyalah wajah Jumhur Hidayat. Seorang pegiat buruh dan TKI, kini menjabat sebagai menteri lingkungan hidup," kata dia.

Masuknya Jumhur Hidayat disebut menjadi satu-satunya elemen segar di tengah dominasi nama lama. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam kebijakan lingkungan hidup.

Rotasi Internal Bukan Perubahan Besar


Halaman:

Komentar