Menanggapi hal tersebut, Qodari menilai pola komunikasi publik saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, kondisi komunikasi politik hari ini menuntut respons yang lebih cepat dan terbuka. "Saya langsung komentar begini, emang maunya situ nyerang-nyerang terus enggak ada yang jawab gitu ya? Gitu. Enak aja, sorry ye," ujarnya.
Ia menjelaskan, arus informasi saat ini bergerak sangat cepat sehingga pemerintah tidak bisa lagi bersikap diam. Menurutnya, diperlukan keseimbangan narasi agar tidak terjadi dominasi satu arah informasi. "Karena informasi itu kalau kita diam, dia akan terus datang kepada kita. Jadi kita harus melakukan perimbangan, memberikan perspektif dan pandangan-pandangan. Sampai titik tertentu saya sering bilang di podcast, ya sekarang ini mungkin era di mana your words against my words, gitu loh," jelasnya.
Qodari menegaskan, komunikasi pemerintah ke depan tidak hanya cukup bersifat proaktif, tetapi juga harus lebih agresif dalam merespons isu publik. "Jadi bukan cuma proaktif, tapi harus agresif. Nah ini bakal dikutip ramai ini nanti. Nggak apa-apa, your words against my words. Saya yakin dan percaya bahwa publik punya rasionalitasnya sendiri dan mayoritas akan mendukung program-program yang kita kerjakan karena betul-betul ditujukan untuk masyarakat Indonesia," tuturnya.
Artikel Terkait
Ray Rangkuti Sindir Reshuffle Kelima Prabowo: Hanya Putar Posisi, Minim Figur Baru
Anggaran Pakaian Dinas Pemprov Sumsel Rp3 Miliar Disorot, Gubernur Herman Deru Buka Suara
Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman: Konflik Timur Tengah 2 Bulan Tak Ganggu Pasokan Energi Indonesia
Harta Kekayaan Hasan Nasbi Tembus Rp40,43 Miliar, Ini Rincian LHKPN Terbarunya