MULTAQOMEDIA.COM - Aktivis dan eksponen Reformasi 98, Andrianto Andri, mengkritik tajam pemberitaan majalah Inggris The Economist yang dinilai berlebihan dalam menyoroti kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, majalah tersebut telah mengeluarkan opini tanpa dasar yang jelas dengan menyebut pemerintahan Prabowo menuju otoritarianisme dan pemborosan anggaran.
"The Economist mengabaikan fakta bahwa Prabowo mencapai kekuasaan melalui jalur demokratis setelah tiga kali kegagalan. Kini, mantan Danjen Kopassus itu justru melahirkan kebijakan populis yang pro-rakyat," ujar Andri dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Andri menegaskan bahwa Presiden Prabowo adalah sosok nasionalis sejati yang sangat dibutuhkan Indonesia di tengah ketidakpastian global. Situasi dunia semakin panas akibat kebijakan hegemonistik Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara seperti Iran dan Venezuela.
Menurut Andri, The Economist yang pertama kali terbit pada 1843 oleh keluarga Atmelly dan Rothschild, telah menyebarkan isu berbahaya yang dapat mengganggu stabilitas dalam negeri. Majalah itu menyebut Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sedang berada di jalur berisiko tinggi.
"Mereka menyimpulkan Prabowo melemahkan keuangan negara dengan perilaku boros dan membahayakan demokrasi karena tidak mentolerir kritik. Ini tuduhan yang sangat tidak berdasar," bebernya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Kritik Pemerintah: Berhenti Beri Obat Tidur ke Rakyat, Buka Data Ekonomi dengan Jujur
Jokowi Keliling Indonesia: Buni Yani Beri Syarat Bawa Ijazah, Warganet Ramai Komentar
Purbaya Buka Suara soal Ucapan Prabowo Soal Dolar: Jangan Salah Paham, Ini Konteksnya
Setelah Pulih dari Sakit, Jokowi Dijadwalkan Safari Politik ke NTT untuk Tinjau Rumput Laut