Rupiah Tembus Rp 17.718 per Dolar AS, 10 Bahan Pangan Ini Terancam Naik Harga

- Selasa, 19 Mei 2026 | 14:25 WIB
Rupiah Tembus Rp 17.718 per Dolar AS, 10 Bahan Pangan Ini Terancam Naik Harga

Rupiah Tembus Rp 17.718 per Dolar AS, 10 Bahan Pangan Ini Terancam Naik Harga

Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan ke posisi Rp 17.718 per dolar AS pada Selasa (19/05/2026) pagi. Pelemahan rupiah yang terus berlanjut ini memicu kekhawatiran baru di sektor pangan nasional.

Pasalnya, sejumlah bahan pangan di Indonesia masih sangat bergantung pada impor yang dibeli menggunakan dolar AS. Kondisi ini membuat harga pangan domestik menjadi rentan terhadap gejolak kurs dan fluktuasi mata uang.

Ketika rupiah tertekan, biaya impor otomatis meningkat sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat produsen hingga konsumen. Situasi ini tidak hanya berdampak pada industri makanan, tetapi juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat melalui naiknya harga kebutuhan pokok di pasar tradisional maupun modern.

Jika tren pelemahan rupiah berlanjut, bukan tidak mungkin harga berbagai bahan pangan akan ikut merangkak naik dalam waktu dekat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), berikut daftar komoditas impor yang diprediksi terdampak melemahnya rupiah.

Daftar Komoditas Pangan Terdampak Pelemahan Rupiah

1. Gandum dan Meslin

Komoditas ini hampir sepenuhnya diimpor untuk kebutuhan industri tepung terigu. Pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan biaya produksi, sehingga berpotensi menaikkan harga produk turunan seperti roti, mi instan, dan kue.

2. Gula

Baik gula konsumsi maupun gula mentah untuk industri masih mengandalkan impor. Kenaikan biaya impor akibat rupiah melemah bisa berdampak langsung pada harga gula di pasaran.

3. Kakao

Meski Indonesia merupakan produsen kakao, beberapa kebutuhan industri tetap bergantung pada impor, sehingga sektor ini rentan terhadap fluktuasi kurs dolar AS.

4. Kedelai

Bahan utama tahu dan tempe ini sebagian besar diimpor. Melemahnya rupiah berpotensi membuat harga kedelai dan produk turunannya ikut naik, mengancam industri pangan rakyat.


Halaman:

Komentar