Andri menambahkan, sejak awal berdirinya, The Economist memang berkiblat pada paham neoliberalisme yang mendukung kapitalisme modern. Paham ini menganut prinsip laissez-faire, di mana negara tidak boleh mengintervensi mekanisme pasar.
"Wajar jika The Economist tidak memahami apa yang dilakukan Presiden Prabowo melalui kebijakan populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan Sekolah Rakyat," tuturnya.
Selain program populis tersebut, Presiden Prabowo juga memperkuat APBN, mengutamakan produk domestik, dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Andri menilai langkah-langkah ini justru sangat tepat di tengah tekanan global.
"Menurut majalah itu, Prabowo adalah pemimpin yang membawa Indonesia menuju otoritarianisme. Bagi saya, pernyataan itu sangat tidak masuk akal. Memang dia seorang jenderal, tetapi dia taat pada proses demokrasi," ucapnya.
"Harus dicatat, Prabowo sudah empat kali mengikuti Pilpres, tiga kali gagal, dan baru berhasil pada 2024. Dia menaati demokrasi untuk mencapai kekuasaan," pungkas peraih gelar magister administrasi dari Universitas Prof. Dr Moestopo itu.
Artikel Terkait
IPW Kritik Keras Febrie Belum Ditahan, Desak Prabowo Copot Jaksa Agung ST Burhanuddin
Perubahan Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet: Ini Penjelasan Mensesneg
Prabowo Syok Temukan Kerusakan Indonesia Stadium Akibat Salah Urus, Dana Rp Ribuan Triliun Raib
Sidang Etik 6 Pimpinan KPU RI: Pelanggaran Administrasi Dokumen Pencalonan Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019