“Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda. Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri bahkan sebagian kabur,” tegasnya.
Pemerintah Diminta Berhenti Memberi Obat Tidur ke Publik
Anies juga menilai pemerintah gagal menunjukkan keteladanan. Di saat rakyat diminta berhemat, pemerintah justru sibuk dengan hal-hal yang bukan prioritas.
“Di saat rakyat diminta berhemat mengencangkan ikat pinggang, pemerintah justru sibuk dengan hal-hal yang bukan prioritas. Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ya tampak sebagai ketidakpekaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa berbagai peringatan terkait kondisi ekonomi Indonesia telah disampaikan oleh banyak pihak, mulai dari ekonom dalam negeri, lembaga keuangan internasional, hingga media nasional dan internasional.
“Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama,” katanya.
Oleh karena itu, Anies meminta pemerintah untuk berhenti menenangkan publik dengan narasi semu dan mulai menyampaikan kondisi secara terbuka.
“Maka dari itu saya mengajak kepada pemerintah, berhentilah memberi obat tidur kepada publik. Buka data apa adanya, sampaikan masalah dengan jujur, berikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten. Pimpin secara solid dari atas sampai bawah,” ucapnya.
Optimisme di Tengah Tekanan: Syaratnya Harus Serius
Menurut Anies, langkah transparansi tersebut akan membantu memulihkan kepercayaan pasar dan menenangkan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi. Ia pun mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi masa-masa sulit yang kemungkinan masih akan berlangsung ke depan.
“Suka tidak suka masa-masa berat masih ada di depan kita. Tekanan ekonomi belum mereda, cuaca ekstrem akan hadir dan menerpa, dan dunia di luar sedang bergolak,” kata Anies.
Meski demikian, ia tetap mengajak masyarakat untuk optimistis selama pemerintah dan seluruh elemen bangsa menghadapi situasi dengan serius dan terbuka.
“Kita tetap harus optimis bahwa kita akan bisa melewati itu semua asal kita berjalan dengan mata terbuka bukan dengan ilusi yang dibuat-buat. Kita pasti bisa, tapi syaratnya satu: serius mari kita mengurus bangsa ini,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Jokowi Keliling Indonesia: Buni Yani Beri Syarat Bawa Ijazah, Warganet Ramai Komentar
Purbaya Buka Suara soal Ucapan Prabowo Soal Dolar: Jangan Salah Paham, Ini Konteksnya
Aktivis Reformasi 98 Bantah Tudingan The Economist: Prabowo Pemimpin Demokratis, Bukan Otoriter
Setelah Pulih dari Sakit, Jokowi Dijadwalkan Safari Politik ke NTT untuk Tinjau Rumput Laut