Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan dalam hubungan politik mereka. Meskipun belum mencapai titik perpecahan, dinamika ini mulai terlihat jelas dalam beberapa bulan terakhir.
Pengamat politik Ray Rangkuti mengungkapkan bahwa indikasi keretakan tersebut sudah terlihat sejak sekitar tujuh bulan lalu. "Saya kira sejak tujuh bulan lalu sudah mengisyaratkan keretakan. Belum pecah, tapi dia retak," kata Ray dalam kanal Youtube Hendri Satrio.
Menurut Ray, keretakan ini berpotensi berkembang menjadi perbedaan arah politik yang lebih signifikan menjelang Pemilu 2029. "Retak itu ke arah pecah. Jadi mungkin pecahnya di 2028, di mana kemungkinan Jokowi dengan Prabowo akan berbeda jalan," ujarnya.
Salah satu indikator yang disorot adalah semakin intensnya safari politik yang dilakukan Jokowi ke berbagai daerah. Ray menduga aktivitas ini terkait dengan peluang Gibran Rakabuming Raka untuk kembali menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo pada 2029. "Kenapa beliau mulai jalan-jalan? Dugaan saya atau analisa saya, karena saya merasa Gibran hanya punya peluang sekitar 30 persen untuk kembali dipilih Prabowo sebagai pasangan pada 2029," katanya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia