Menurut Islah, perubahan pandangannya terhadap Jokowi terjadi setelah ia merasa kecewa dengan sejumlah keputusan politik yang dinilainya lebih didorong oleh ambisi pribadi dan kepentingan kekuasaan, bukan semata-mata untuk kepentingan publik.
"Itu karena dikhianati dengan ambisi-ambisi pribadi," tegasnya.
Lebih lanjut, Islah mengingatkan publik agar tidak memberikan penghormatan secara berlebihan kepada tokoh politik tanpa dibarengi sikap kritis. Ia menilai fanatisme politik dapat mengaburkan nalar dan objektivitas dalam menilai kebijakan maupun tindakan para pemimpin.
Pernyataan Islah ini menjadi pengingat penting bahwa dukungan politik seharusnya didasarkan pada gagasan, rekam jejak, dan kinerja nyata, bukan semata-mata pada pembentukan citra atau kultus individu. Masyarakat perlu menjaga nalar kritis agar tidak terjebak dalam pengagungan terhadap figur tertentu yang berpotensi mengesampingkan kepentingan publik secara luas.
Artikel Terkait
Kontroversi Ijazah Gibran: Denny Indrayana Desak Mundur demi Stabilitas Politik
Jokowi Dinilai Tak Akan Paksakan Gibran dan Kaesang Maju Pilpres 2029 Jika Elektabilitas Rendah, Ini Kata Lukas Luwarso
Kabinet Bayangan Diduga Dibiayai Asing: Ancaman Kedaulatan atau Kritik Kebijakan? Ini Fakta dan Susunan Lengkapnya
Damai Hari Lubis Sorot Perubahan Sikap dr Tifa di Kasus Ijazah Jokowi: Publik Menanti Konsistensi Hukum