Lonjakan harga minyak ini sendiri tidak terlepas dari eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang semakin meluas memicu kekhawatiran serius terhadap gangguan pasokan energi global. Situasi ini mendorong investor global untuk berpindah ke aset safe-haven seperti Dolar AS, sehingga semakin menekan nilai mata uang negara berkembang termasuk Rupiah.
Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Harga Minyak & Ancaman Inflasi
Ketegangan geopolitik semakin memanas dengan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Pasar menilai figur ini dekat dengan kelompok garis keras, sehingga mengurangi harapan akan pelunakan konflik. Eskalasi ini juga mengancam keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi minyak utama dunia.
Dampaknya, harga minyak dunia meroket. Pada perdagangan pagi, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 20,81% menjadi 109,82 dolar AS per barel. Sementara minyak Brent naik 18,17% menjadi 109,53 dolar AS per barel.
Lonjakan harga energi ini menjadi ancaman serius bagi inflasi global. Kenaikan biaya energi akan mendorong harga-harga barang dan jasa di berbagai negara, memaksa bank sentral untuk mungkin mempertahankan suku bunga tinggi. Kondisi ini sangat memberatkan mata uang negara berkembang seperti Rupiah, sehingga tekanan pada pasangan USD IDR diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat, seiring dengan dinamika geopolitik dan harga komoditas energi.
Artikel Terkait
Rupiah Sentuh Rp17.000, Menkeu Purbaya: Ekonomi Indonesia Masih Ekspansi, Resesi Jauh
BBM Subsidi Naik? Ini Kata Menkeu Purbaya Soal Harga Minyak $92/barel
Dampak Perang AS-Israel vs Iran: Harga Minyak US$100 & Cadangan BBM Indonesia Terancam
Analisis Indef: Kereta Cepat Whoosh Butuh 100 Tahun untuk Balik Modal?