MULTAQOMEDIA.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat drastis. Pakar militer dan pertahanan, Susaningtyas N Kertopati, mengungkapkan bahwa Iran memiliki kartu as yang mematikan jika konflik berkepanjangan. Kemampuan untuk menyerang langsung daratan AS menjadi ancaman serius yang tidak bisa dianggap remeh.
Dalam acara Dialog Prime di Nusantara TV, Jumat (24/4/2026), Susaningtyas yang akrab disapa Bu Nuning menjelaskan bahwa Teheran tidak hanya menggertak. Iran telah mengembangkan teknologi rudal balistik antarbenua (ICBM) dengan jangkauan ekstrem yang mampu menembus wilayah kedaulatan AS.
Ancaman Serangan Langsung ke Wilayah AS
Menurut Nuning, tekanan internal di Iran pasca-tewasnya Ali Khamenei dan cedera Mojtaba Khamenei memicu respons militer ekstrem. Iran disebut siap menggunakan rudal antarbenua sebagai senjata pamungkas. "Perlu diketahui bahwa Iran memiliki kemampuan menyerang langsung ke Amerika Serikat, termasuk kemungkinan penggunaan rudal balistik antarbenua. Ini bisa terjadi apabila Iran merasa sangat dirugikan," tegas Nuning.
Di dalam negeri, terjadi tarik-menarik kepentingan yang kuat. "Tidak semua rakyat Iran berpihak pada rezim saat ini. Ada kelompok yang mendukung figur lama seperti Reza Pahlavi di pengasingan. Hal ini harus menjadi bagian dari pemetaan strategi," ujarnya.
Nuning menekankan bahwa perang modern tidak bisa dilihat hanya dari sisi militer seperti misil atau drone. "Perang saat ini sudah berkembang menjadi perang hibrida—melibatkan perang asimetrik, kognitif, informasi, hingga siber," katanya. Langkah Iran mempersenjatai Selat Hormuz, yang sebelumnya hanya jalur dagang, menjadi bukti nyata peningkatan leverage militer ke level tertinggi.
Artikel Terkait
AS Setuju Bayar Ganti Rugi Rp5,3 Kuadriliun ke Iran: Ini 14 Poin Perjanjian Damai Bersejarah
Trump Mau Pecat Menhan dan Dirut CIA yang Tolak Perdamaian dengan Iran
Iran Ancam Serang Balik Israel Jika Serangan ke Lebanon Tak Dihentikan, Perjanjian Damai AS-Iran Terancam Gagal
Donald Trump Kecam Aksi Militer Israel di Lebanon: Tanpa AS, Tidak Akan Ada Israel