Bhima menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia pada sistem ekonomi global membuat dampak pelemahan Rupiah sulit dihindari. Efeknya akan terasa pada harga energi dan kebutuhan pokok masyarakat.
Berbeda dengan krisis 1998, saat ini masyarakat tidak memiliki banyak alternatif. "Indonesia makin terintegrasi ke dalam sistem ekonomi global. Tahun 98 saat harga minyak tanah naik, orang bisa beralih ke kayu bakar. Tapi sekarang kayu bakarnya dari mana?" ungkapnya.
"Transmisi dari krisis energi global dan pelemahan Rupiah ini adalah efek yang mematikan bagi harga LPG dan kebutuhan pokok," pungkas Bhima.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat desa untuk tidak khawatir dengan kurs Dolar AS. Ia menilai aktivitas warga desa tidak bergantung pada mata uang asing.
"Mau Dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pake Dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri," ujar Prabowo saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Artikel Terkait
PDIP Kritik APBN 2025: Utang Rp9.658 Triliun dan Defisit Membengkak Rp54 Triliun
PHK Massal TikTok: Karyawan Teknologi Tokopedia Tersisa 35 Orang, Operasional Pindah ke China
Indonesia Siap Terapkan B50 Mulai 2026: Langkah Strategis Menuju Swasembada Energi
Purbaya ke China Urus Panda Bond, Ekonom: Jangan Dibesar-besarkan, Ini Baru Cari Utang!