MULTAMEDIA.COM - Data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen yang dirilis pemerintah baru-baru ini menuai keraguan dari banyak ekonom. Angka tersebut dinilai tidak mencerminkan kondisi riil perekonomian nasional saat ini.
Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin menegaskan bahwa pertumbuhan yang dianggap optimistis oleh pemerintah justru menyengsarakan rakyat. Fenomena ini dikenal dalam teori ekonomi sebagai immiserizing growth, yaitu pertumbuhan tinggi yang memiskinkan.
"Dengan sektor manufacturing yang terus menurun dari 30 persen ke 18 persen, itu sangat dahsyat. Yang terjadi dalam ilmu ekonomi disebut immiserizing growth. Pertumbuhan tinggi tapi memiskinkan," ujar Ferry dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin, 11 Mei 2026.
Apa Itu Immiserizing Growth?
Immiserizing growth adalah teori ekonomi yang dipopulerkan oleh Jagdish Bhagwati pada 1958. Teori ini menjelaskan kondisi di mana pertumbuhan ekonomi (peningkatan PDB) justru menurunkan kesejahteraan negara. Hal ini terjadi ketika keuntungan ekspor hilang akibat penurunan drastis harga komoditas global.
Artikel Terkait
Susi Pudjiastuti Resmi Jadi Komisaris Utama Bank bjb, Ayi Subarna Ditunjuk sebagai Direktur Utama
Kementerian ESDM Beri Lampu Hijau untuk Bobibos, Minta Segera Uji Teknis demi Kemandirian Energi
Rupiah Tembus Rp17.310 per Dolar AS, BI Sebut Sudah Undervalued dan Bakal Menguat
Menkeu Purbaya Buka Suara Soal Anggaran Gaji 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Merah Putih