Contoh Nyata di Sulawesi
Ferry mencontohkan fenomena immiserizing growth yang pernah terjadi di Sulawesi terkait pertambangan nikel. "Pertumbuhan daerah itu 28 persen, 30 persen, bahkan 40 persen, tapi rakyatnya menderita. Karena pengotoran, sampah industri. Nelayan tidak bisa melaut, petani tidak bisa bersawah. Itulah yang disebut immiserizing growth," ungkapnya.
Deindustrialisasi Prematur
Fenomena ini juga ditandai dengan deindustrialisasi prematur. Menurut Ferry, penurunan sektor manufacturing dari 30 persen menjadi 18 persen sangat signifikan. "Manufacturing atau sektor pengolahan menciptakan value added dan tenaga kerja. Jika terus turun, pertumbuhan tinggi itu dinikmati oleh siapa?" tegasnya.
Ia juga menyoroti penurunan kelas menengah Indonesia dari 57 juta orang menjadi 46 juta orang. "Itu artinya rakyat semakin miskin," tandas Ferry.
Artikel Terkait
PDIP Kritik APBN 2025: Utang Rp9.658 Triliun dan Defisit Membengkak Rp54 Triliun
PHK Massal TikTok: Karyawan Teknologi Tokopedia Tersisa 35 Orang, Operasional Pindah ke China
Indonesia Siap Terapkan B50 Mulai 2026: Langkah Strategis Menuju Swasembada Energi
Purbaya ke China Urus Panda Bond, Ekonom: Jangan Dibesar-besarkan, Ini Baru Cari Utang!