Ia menambahkan bahwa pemerintah mulai melihat adanya aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa pelemahan rupiah tidak sejalan dengan kondisi ekonomi nasional.
"Kita sudah mulai melihat ada yang masuk modal asing ke pasar publikasi kita. Ini terjadi karena fundamentalnya sebetulnya enggak masuk akal," ujar mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut.
Sementara itu, menanggapi pelemahan rupiah, ekonom Yanuar Rizky menyebut bahwa intervensi di pasar obligasi justru bisa memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah jika ketergantungan terhadap dana asing masih tinggi. "Kalau intervensi SBN agar yield bertahan di saat global yield koreksi, teori likuiditas justru mengatakan rupiah bisa melemah," kata Yanuar.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap aliran dana asing, sehingga pergerakan investor global sangat mempengaruhi nilai tukar rupiah. "Kalau mau melawan bandar tapi kalah terus, akhirnya yang tadinya menahan diri ikut bandar juga. Itu menambah berat tekanan terhadap rupiah," ucap Yanuar dalam pesan singkat.
Selain itu, Yanuar mengingatkan agar pejabat publik lebih berhati-hati dalam menyampaikan komentar terkait pasar keuangan. Hal ini karena pernyataan mereka dapat mempengaruhi persepsi pelaku pasar. "Saya heran pejabat pemerintah malah seperti influencer trading," tuturnya.
Tekanan terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga AS dan sentimen global terhadap pasar negara berkembang. Selain rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut tertekan sejak awal tahun, setelah sebelumnya menorehkan rekor tertinggi dari level 9.000 hingga turun ke level 6.000.
Artikel Terkait
PDIP Kritik APBN 2025: Utang Rp9.658 Triliun dan Defisit Membengkak Rp54 Triliun
PHK Massal TikTok: Karyawan Teknologi Tokopedia Tersisa 35 Orang, Operasional Pindah ke China
Indonesia Siap Terapkan B50 Mulai 2026: Langkah Strategis Menuju Swasembada Energi
Purbaya ke China Urus Panda Bond, Ekonom: Jangan Dibesar-besarkan, Ini Baru Cari Utang!