Ia menambahkan bahwa pemerintah mulai melihat adanya aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa pelemahan rupiah tidak sejalan dengan kondisi ekonomi nasional.
"Kita sudah mulai melihat ada yang masuk modal asing ke pasar publikasi kita. Ini terjadi karena fundamentalnya sebetulnya enggak masuk akal," ujar mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut.
Sementara itu, menanggapi pelemahan rupiah, ekonom Yanuar Rizky menyebut bahwa intervensi di pasar obligasi justru bisa memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah jika ketergantungan terhadap dana asing masih tinggi. "Kalau intervensi SBN agar yield bertahan di saat global yield koreksi, teori likuiditas justru mengatakan rupiah bisa melemah," kata Yanuar.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap aliran dana asing, sehingga pergerakan investor global sangat mempengaruhi nilai tukar rupiah. "Kalau mau melawan bandar tapi kalah terus, akhirnya yang tadinya menahan diri ikut bandar juga. Itu menambah berat tekanan terhadap rupiah," ucap Yanuar dalam pesan singkat.
Selain itu, Yanuar mengingatkan agar pejabat publik lebih berhati-hati dalam menyampaikan komentar terkait pasar keuangan. Hal ini karena pernyataan mereka dapat mempengaruhi persepsi pelaku pasar. "Saya heran pejabat pemerintah malah seperti influencer trading," tuturnya.
Tekanan terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga AS dan sentimen global terhadap pasar negara berkembang. Selain rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut tertekan sejak awal tahun, setelah sebelumnya menorehkan rekor tertinggi dari level 9.000 hingga turun ke level 6.000.
Artikel Terkait
Gaji ke-13 ASN 2026 Cair 2 Juni, Ini Besaran Lengkap Berdasarkan Jabatan dan Masa Kerja
Rupiah Tembus Rp 17.718 per Dolar AS, 10 Bahan Pangan Ini Terancam Naik Harga
Menkeu Purbaya Berangkat Haji saat Rupiah Terpuruk, Siapkan Doa Khusus untuk Selamatkan Ekonomi RI
Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp17.713 per Dolar AS, IHSG Ikut Tertekan