MULTAQOMEDIA.COM - Pelemahan Rupiah yang menembus level Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sinyal menurunnya kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi domestik. Kondisi ini memicu pertanyaan besar: mengapa intervensi Bank Indonesia (BI) belum mampu menahan laju depresiasi?
Kepala Riset Fraus Kapital, Alfred Nainggolan, menegaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak bisa semata-mata disalahkan pada faktor global. Menurutnya, depresiasi yang mendekati 7 persen sejak awal tahun memang belum menjadi rekor terburuk, namun dampaknya terhadap Indonesia jauh lebih besar dibandingkan negara lain.
"Jika penyebabnya murni faktor global, negara lain seharusnya mengalami tekanan yang relatif sama. Faktanya, Indonesia terkena dampak lebih besar," ujar Alfred dalam wawancara dengan CNN TV, dikutip Sabtu 6 Juni 2026.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus Rp18.000, IHSG Anjlok 30%: Menteri Keuangan Purbaya Buka Suara di Tengah Krisis Ekonomi
Rupiah Anjlok ke Rp 18.023, BI Beberkan Dampak Konflik Timur Tengah dan Strategi Intervensi
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS: Penyebab, Dampak, dan Prediksi Pelemahan Selanjutnya
Rupiah Tertekan ke Rp 17.858 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Sebut Pelemahan Tidak Wajar