MULTAQOMEDIA.COM - Pelemahan Rupiah yang menembus level Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sinyal menurunnya kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi domestik. Kondisi ini memicu pertanyaan besar: mengapa intervensi Bank Indonesia (BI) belum mampu menahan laju depresiasi?
Kepala Riset Fraus Kapital, Alfred Nainggolan, menegaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak bisa semata-mata disalahkan pada faktor global. Menurutnya, depresiasi yang mendekati 7 persen sejak awal tahun memang belum menjadi rekor terburuk, namun dampaknya terhadap Indonesia jauh lebih besar dibandingkan negara lain.
"Jika penyebabnya murni faktor global, negara lain seharusnya mengalami tekanan yang relatif sama. Faktanya, Indonesia terkena dampak lebih besar," ujar Alfred dalam wawancara dengan CNN TV, dikutip Sabtu 6 Juni 2026.
Artikel Terkait
Pajak Rumah Sewa 2027: Pemerintah Incar Pemilik Rumah Kedua dan Juragan Kontrakan
Pemerintah Lunasi Utang Kopdes Merah Putih Rp240 Triliun Pakai APBN, Dicicil 6 Tahun
Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Turun per 1 Agustus 2026: Daftar Lengkap Pertamax, Turbo, dan Dexlite di Seluruh Wilayah Indonesia
PDIP Kritik APBN 2025: Utang Rp9.658 Triliun dan Defisit Membengkak Rp54 Triliun