Ia menilai pasar mulai mempertanyakan arah kebijakan ekonomi pemerintah dan melihat adanya persoalan struktural yang belum terselesaikan. Langkah Bank Indonesia seperti kenaikan suku bunga, intervensi pasar valas, hingga pembelian obligasi dinilai belum cukup untuk memulihkan kepercayaan investor.
Menurut Alfred, kekhawatiran pasar justru berpusat pada potensi kemunduran reformasi ekonomi yang selama ini menjadi daya tarik utama Indonesia. Beberapa kebijakan yang membutuhkan anggaran besar namun belum menunjukkan manfaat ekonomi yang jelas turut memperburuk sentimen pelaku pasar.
Pelemahan Rupiah juga mulai berdampak pada sektor riil. Depresiasi mata uang meningkatkan nilai impor dan menekan surplus neraca perdagangan Indonesia. Alfred menekankan bahwa persoalan yang dihadapi pasar saat ini bersifat fundamental, bukan jangka pendek.
"Selama persoalan fundamental belum dijawab, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut," pungkas Alfred.
Artikel Terkait
Pajak Rumah Sewa 2027: Pemerintah Incar Pemilik Rumah Kedua dan Juragan Kontrakan
Pemerintah Lunasi Utang Kopdes Merah Putih Rp240 Triliun Pakai APBN, Dicicil 6 Tahun
Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Turun per 1 Agustus 2026: Daftar Lengkap Pertamax, Turbo, dan Dexlite di Seluruh Wilayah Indonesia
PDIP Kritik APBN 2025: Utang Rp9.658 Triliun dan Defisit Membengkak Rp54 Triliun