Ia menilai pasar mulai mempertanyakan arah kebijakan ekonomi pemerintah dan melihat adanya persoalan struktural yang belum terselesaikan. Langkah Bank Indonesia seperti kenaikan suku bunga, intervensi pasar valas, hingga pembelian obligasi dinilai belum cukup untuk memulihkan kepercayaan investor.
Menurut Alfred, kekhawatiran pasar justru berpusat pada potensi kemunduran reformasi ekonomi yang selama ini menjadi daya tarik utama Indonesia. Beberapa kebijakan yang membutuhkan anggaran besar namun belum menunjukkan manfaat ekonomi yang jelas turut memperburuk sentimen pelaku pasar.
Pelemahan Rupiah juga mulai berdampak pada sektor riil. Depresiasi mata uang meningkatkan nilai impor dan menekan surplus neraca perdagangan Indonesia. Alfred menekankan bahwa persoalan yang dihadapi pasar saat ini bersifat fundamental, bukan jangka pendek.
"Selama persoalan fundamental belum dijawab, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut," pungkas Alfred.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus Rp18.000, IHSG Anjlok 30%: Menteri Keuangan Purbaya Buka Suara di Tengah Krisis Ekonomi
Rupiah Anjlok ke Rp 18.023, BI Beberkan Dampak Konflik Timur Tengah dan Strategi Intervensi
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS: Penyebab, Dampak, dan Prediksi Pelemahan Selanjutnya
Rupiah Tertekan ke Rp 17.858 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Sebut Pelemahan Tidak Wajar