Pengejaran telah dimulai sejak kapal ini berada di dekat Venezuela. AS mengerahkan berbagai aset militer, termasuk pesawat pengintai P-8, kapal penjaga pantai, serta mendapatkan dukungan dari militer Inggris.
Penyitaan Kapal Kedua di Karibia
Selain Bella 1, AS juga menyita satu kapal tanker lainnya di kawasan Karibia. Kapal ini juga dianggap tidak memiliki kewarganegaraan dan diduga terlibat dalam aktivitas ilegal yang sama. Tindakan ini menunjukkan komitmen AS untuk menindak seluruh jaringan pengangkutan minyak ilegal.
Pernyataan Tegas Pejabat AS
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan sikap keras pemerintah melalui media sosial. "Para penjahat dunia telah diberi peringatan. Kalian bisa lari, tetapi kalian tidak bisa bersembunyi," ujarnya.
Dukungan juga datang dari Gedung Putih. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump tidak gentar dan akan terus menegakkan kebijakan yang terbaik untuk AS, termasuk memberlakukan embargo terhadap semua kapal armada gelap yang mengangkut minyak secara ilegal. Langkah ini diakui berpotensi meningkatkan ketegangan dengan negara seperti Rusia dan China.
Operasi penyitaan kapal tanker minyak ilegal ini menandai eskalasi dalam penegakan sanksi maritim oleh Amerika Serikat, dengan jangkauan operasi dari perairan Karibia hingga ke Atlantik Utara yang dingin.
Artikel Terkait
Perang Dunia 3? Klaim Dewan Perang Eropa & Bantahan Uni Eropa Dikupas Tuntas
Jerman Bangkitkan Militer Terkuat di Eropa 2026: Anggaran Rp1.950 Triliun & Wajib Militer Baru
Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol di Adamuz: 21 Tewas, Penyebab Diduga Anjlok
Lonjakan PTSD & Bunuh Diri di Militer Israel: Dampak Psikologis Perang Gaza 2024-2025