Lebih dalam, Trenin menilai konflik ini didorong oleh kekhawatiran Barat terhadap kebangkitan kekuatan geopolitik baru seperti Rusia dan China. "Ini bukan sekadar persaingan geopolitik, melainkan perjuangan eksistensial. Globalisme tidak memberi ruang bagi alternatif kekuatan," tegasnya.
Strategi dan Rekomendasi untuk Rusia
Menghadapi situasi ini, Trenin mendorong Rusia untuk beralih dari strategi defensif ke mobilisasi nasional yang terukur, mencakup:
- Penguatan sektor teknologi dan ekonomi
- Peningkatan kerja sama strategis dengan mitra seperti Belarus dan Korea Utara
- Memanfaatkan keretakan internal di Uni Eropa sebagai celah strategis
Dinamika AS dan Opsi Strategis Terakhir
Trenin juga menyentuh dinamika politik AS. Kemungkinan kembalinya Donald Trump dinilainya dapat memberi ruang untuk menurunkan tekanan militer AS terhadap Rusia, meski kebijakan konfrontatif Washington tetap berlanjut.
Pernyataan paling kontroversialnya adalah seruan agar Rusia siap mengambil langkah preemptif jika eskalasi tak terhindarkan, termasuk opsi penggunaan senjata strategis dengan kesadaran penuh atas risikonya.
Kesimpulan: Medan Perang Abad 21
Bagi Trenin, keberhasilan dalam Perang Dunia III ini tidak diukur dari perluasan wilayah, tetapi dari kemampuan menggagalkan strategi lawan. Medan perangnya mencakup seluruh aspek kehidupan: militer, ekonomi, informasi, dan opini publik.
"Era ilusi telah berakhir. Dunia berada dalam konflik global, dan satu-satunya pilihan adalah bertindak secara berani, terukur, dan strategis," pungkas Dmitry Trenin menutup analisisnya.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan