Meningkatnya ketegangan juga ditandai dengan evakuasi personel non-esensial AS dari beberapa pangkalan militer di Timur Tengah, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Meski disebut sebagai "perubahan postur" oleh seorang diplomat, langkah ini memperkuat suasana siaga tinggi.
Kantor berita Reuters melaporkan, berdasarkan informasi dari pejabat militer Barat dan Eropa yang tidak disebutkan namanya, bahwa intervensi militer AS berpotensi terjadi dalam 24-48 jam ke depan. Laporan tersebut menyebut Presiden Donald Trump tampaknya telah memutuskan untuk menyerang, meski skala dan cakupan serangan masih belum jelas.
Latar Belakang Ketegangan Terkini
Ketegangan ini memuncak setelah Iran dilanda gelombang unjuk rasa besar dan kerusuhan dalam negeri sejak akhir Desember, yang disertai inflasi tinggi dan devaluasi mata uang. Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik gejolak dalam negeri mereka. Di sisi lain, pemerintahan Trump telah mengeluarkan sejumlah ancaman terbuka terhadap Teheran dalam beberapa hari terakhir.
Analis menyatakan, pergerakan kapal induk, penutupan wilayah udara, dan evakuasi personel adalah indikator klasik menuju eskalasi militer. Namun, masih ada ruang untuk diplomasi mengingat waktu tempuh armada kapal induk yang tidak singkat. Dunia internasional kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari kawasan Timur Tengah yang kembali menjadi titik fokus geopolitik global.
Artikel Terkait
India Desak 10.765 Warganya Segera Tinggalkan Iran, Ancaman Militer AS Meningkat
Arab Saudi Peringatkan AS: Serangan ke Iran Picu Krisis Minyak & Hancurkan Ekonomi Global
Serangan Militer AS ke Iran dalam 24 Jam? Analisis Terbaru dan Dampaknya
Yoon Suk Yeol Dituntut Hukuman Mati: Kronologi Lengkap & Fakta Terbaru