Pengaruh Evangelis dalam Kebijakan Trump vs Iran: Analisis Dampak & Eskalasi Konflik

- Minggu, 08 Maret 2026 | 08:50 WIB
Pengaruh Evangelis dalam Kebijakan Trump vs Iran: Analisis Dampak & Eskalasi Konflik

Ideologi Ekstremis di Pentagon dan Kongres

Pengaruh ini merambah ke institusi militer dan legislatif. Menteri Perang Pete Hegseth diketahui mengadakan kebaktian doa dan studi Alkitab di Pentagon. Hegseth, yang dikenal dengan retorika anti-Islam, menyebut serangan terhadap Iran diperlukan karena rezimnya menganut "delusi kenabian Islam".

Di Kongres, Ketua DPR Mike Johnson, seorang evangelis garis keras, menyebut Iran menganut "agama yang sesat". Sementara Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengutip klaim alkitabiah atas tanah Israel yang mencakup wilayah negara-negara tetangganya.

Dampak pada Militer dan Respons Publik

Yayasan Kebebasan Beragama Militer melaporkan ratusan pengaduan dari prajurit tentang komandan yang menyatakan perang di Timur Tengah "disetujui secara alkitabiah" dan bahwa Trump "diurapi" untuk memicu Armagedon. Retorika serupa juga muncul pasca serangan 7 Oktober 2023.

Organisasi seperti Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengecam keras retorika ini. Mereka memperingatkan bahwa memfitnah agama untuk membenarkan kebijakan perang mencerminkan masa-masa kelam dalam sejarah dan dapat memicu diskriminasi serta eskalasi konflik yang lebih luas.

Kesimpulan: Dari Pinggiran ke Pusat Kekuasaan

Gerakan ekstremisme Kristen, khususnya dari denominasi evangelis, telah berhasil berpindah dari bangku gereja ke jantung kekuasaan di Gedung Putih, Pentagon, dan Kongres. Keyakinan teologis mereka tentang akhir zaman kini secara langsung memengaruhi kebijakan luar negeri AS yang berisiko tinggi, khususnya terkait Iran dan kawasan Timur Tengah. Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam dinamika politik dan keagamaan di Amerika Serikat.


Halaman:

Komentar