Ketegangan juga dirasakan di Arab Saudi. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan keberhasilan menembak jatuh sembilan drone yang menuju Ladang Minyak Shaybah di wilayah Empty Quarter. Sebuah rudal balistik yang menuju Provinsi Timur juga berhasil dinetralisir.
Insiden ini terjadi setelah sebuah proyektil militer jatuh di kawasan permukiman di Kabupaten Al-Kharj pada hari sebelumnya, yang menewaskan dua warga Bangladesh dan melukai 12 lainnya.
Pemerintah Arab Saudi secara resmi mengecam kampanye agresi berkelanjutan yang dilancarkan Iran terhadap negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri, Saudi memperingatkan bahwa eskalasi ini justru akan merugikan Iran sendiri.
Arab Saudi menegaskan bahwa Iran akan menanggung konsekuensi diplomatik, ekonomi, dan strategis yang paling berat jika serangan terus berlanjut. Kerajaan juga menyatakan solidaritas penuh dengan Kuwait dan UEA.
Kuwait Protes dan Panggil Dubes Iran
Menanggapi serangan yang juga menyasar wilayahnya, Kementerian Luar Negeri Kuwait untuk kedua kalinya memanggil Duta Besar Iran, Mohammad Toutounchi. Kuwait menyatakan serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan hukum internasional.
Pemerintah Kuwait menegaskan haknya untuk membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB dan menolak segala bentuk agresi yang menargetkan infrastruktur sipil vital di negaranya.
Krisis keamanan di Teluk ini terus berkembang, dengan negara-negara GCC memperkuat pertahanan udara dan memberikan peringatan keras terhadap Iran atas serangan yang mengancam stabilitas regional.
Artikel Terkait
AS Luncurkan Rudal PrSM Pertama Kali ke Iran, Klaim Lebih Dahsyat dari Tomahawk
Video Viral Rumah Itamar Ben-Gvir Terbakar: Fakta atau Hoaks?
Lonjakan Harga Minyak Global 2026: Dampak Kenaikan BBM di Pakistan hingga Panic Buying Australia
Kekacauan di Israel Pasca Serangan Iran: Warga Panik Kabur, CCTV Dirusak Polisi