Pemilu Sela AS, yang dijadwalkan pada 6 November 2026, sering disebut sebagai referendum terhadap kinerja presiden petahana. Kekalahan partai presiden di Kongres dapat melemahkan kekuasaannya secara signifikan.
Meski tidak dapat langsung melengserkan presiden, kemenangan oposisi di Pemilu Sela membuka jalan untuk proses impeachment (pemakzulan). Presiden baru benar-benar lengser jika Senat kemudian memutuskan bersalah dengan dukungan dua pertiga suara. Survei terbaru dari YouGov/The Economist menunjukkan tingkat persetujuan Trump anjlok ke 38% pasca eskalasi konflik.
Sikap Trump dan Potensi Jalan Keluar Diplomatik
Trump membela kebijakannya dengan menyebut kenaikan harga minyak sebagai "harga yang sangat kecil" untuk keamanan global. Namun, analis politik menilai kenaikan harga bahan bakar adalah isu sensitif yang dapat memperburuk sentimen publik.
Mantan pejabat senior, seperti dikutip CNN, menyebut kondisi pasar bisa memaksa Gedung Putih meninjau ulang skala operasi militer. Langkah diplomatik dinilai sebagai jalan paling aman untuk mencegah risiko politik yang lebih besar. Trump sendiri menyatakan perang akan segera berakhir dan memprediksi harga minyak akan segera turun.
Artikel Terkait
Trump Ancam Terapkan Tarif di Selat Hormuz Jika Gagal Damai dengan Iran dalam 60 Hari
AS Setuju Bayar Ganti Rugi Rp5,3 Kuadriliun ke Iran: Ini 14 Poin Perjanjian Damai Bersejarah
Trump Mau Pecat Menhan dan Dirut CIA yang Tolak Perdamaian dengan Iran
Iran Ancam Serang Balik Israel Jika Serangan ke Lebanon Tak Dihentikan, Perjanjian Damai AS-Iran Terancam Gagal