Ghalibaf juga menuding Israel memiliki pola konflik yang berulang, yaitu siklus perang, negosiasi, gencatan senjata, lalu kembali berperang. Menurutnya, Iran bertekad untuk memutus siklus tersebut.
"Rezim Zionis (Israel) secara konsisten melanggengkan siklus kejam 'perang, negosiasi, gencatan senjata, lalu perang lagi' sepanjang sejarahnya. Kami akan memutus siklus ini," tegasnya.
Sebagai contoh, Ghalibaf menyebut serangan yang terjadi pada Juni 2025. Saat itu, Israel dan AS melancarkan serangan ketika perundingan nuklir masih berlangsung. Iran terlibat perang selama 12 hari dengan Israel, dan di tengah pertempuran, militer AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni.
Pernyataan keras dari pimpinan Iran ini semakin mengukuhkan ketegangan geopolitik yang tinggi di Timur Tengah dan menegaskan komitmen Iran untuk membalas setiap agresi yang ditujukan kepada mereka.
Artikel Terkait
Isu Netanyahu Tewas: Fakta, Bantahan, dan Analisis Terkini Pasca Serangan Iran
AS Menyesal Abaikan Teknologi Anti-Drone Ukraina: Pelajaran dari Ancaman Iran
Israel Dihujani 150 Roket Hizbullah, Ratusan Ribu Warga Mengungsi: Serangan Terkoordinasi dengan Iran
Uskup San Diego Diberhentikan Paus: Skandal Dana Gereja & Rumah Bordil Meksiko