Kehadiran seorang presiden dalam acara kelompok pendukung fanatik seorang tokoh dapat ditafsirkan sebagai bentuk legitimasi terhadap primordialisme dan kultus individu. Ini dapat menciptakan preseden buruk di mana kelompok-kelompok serupa yang berorientasi pada sosok tertentu akan bermunculan.
2. Presiden Adalah Pemersatu Seluruh Bangsa
Sebagai Presiden Republik Indonesia, tugas utama Prabowo Subianto adalah menjaga persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali. Menghadiri acara yang secara sempit mengusung dukungan untuk satu tokoh tertentu dapat bertentangan dengan semangat pemersatu ini dan berpotensi memecah belah.
3. Tidak Mendidik Masyarakat dan Berpotensi Memecah Belah
Kelompok yang berdasar pada kultus individu tertentu, apalagi setelah masa jabatannya berakhir, tidak mendidik masyarakat untuk berpikir lebih substantif tentang pembangunan bangsa. Hal seperti ini justru berisiko menumbuhkan fanatisme sempit yang dapat mengancam kerukunan nasional.
Kesimpulan: Prabowo yang Cerdas Diprediksi Tidak Akan Hadir
Berdasarkan analisis ini, dapat disimpulkan bahwa Presiden Prabowo Subianto, yang dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memahami betul fungsi konstitusionalnya, diprediksi tidak akan menghadiri Kongres III Projo. Meskipun undangan telah diterima, langkah yang paling bijaksana adalah menjaga netralitas dan fokus pada kepentingan seluruh bangsa Indonesia, bukan segelintir kelompok tertentu. Langkah ini sejalan dengan semangat untuk memperkuat persatuan nasional dan menghindari segala bentuk politik identitas dan kultus individu.
Artikel Terkait
Kasus Ijazah Jokowi: Menunggu P21 atau P19 dari Kejaksaan Agung?
Jenazah Florencia Lolita Wibisono, Pramugari Korban Kecelakaan ATR di Gunung Bulusaraung, Akhirnya Teridentifikasi
Purbaya Klaim Bisa Perkuat Rupiah dalam 2 Malam, Ini Faktanya
Viral WNI Berhijab Jadi Tentara AS: Syifa di National Guard, Risiko Hilang WNI