Kasus ini mengikuti pola serupa yang beberapa kali terjadi di platform TikTok. Modusnya melibatkan pelaku yang memanfaatkan jasa video call dewasa berbayar dari para creator, lalu merekamnya secara diam-diam.
Rekaman ilegal ini kemudian disebarluaskan melalui aplikasi seperti Telegram, media sosial X, atau layanan cloud seperti Terabox. Pelaku mengemasnya menjadi bisnis eksploitatif dengan meminta bayaran dari calon penonton, baik melalui sistem langganan bulanan maupun tiket masuk sekali bayar ke grup "VIP".
Dampak dan Pelanggaran Privasi yang Serius
Skandal Parera ini menyoroti kerentanan parah creator, khususnya perempuan, di ranah digital. Tindakan perekaman dan penyebaran tanpa izin ini merupakan pelanggaran privasi berat dan bentuk eksploitasi digital.
Para korban tidak hanya dirugikan secara moral, tetapi juga finansial, karena keuntungan dari konten ilegal tersebut mengalir ke pelaku penyebar, bukan kepada pemilik konten asli.
Artikel Terkait
Aturan Baru Cukai Tembakau: Pemerintah Legalkan Rokok Ilegal untuk Tingkatkan Penerimaan Negara
Kronologi Lengkap Pengeroyokan Guru SMK di Jambi oleh Siswa: Penyebab, Klarifikasi & Respons Disdik
Ammar Zoni Dijanjikan Rp 100 Ribu per Gram Jadi Gudang Narkoba di Rutan: Kronologi Sidang
10 Marketplace Terbaik Beli Blueprint Arc Raiders 2026: Ulasan & Rekomendasi