Di sisi lain, BGN dan pemerintah menyebut telah melakukan evaluasi menyeluruh. Pengawasan dapur penyedia makanan, sertifikasi keamanan pangan, hingga standar operasional prosedur (SOP) diklaim telah diperketat. Bahkan, Kementerian Kesehatan melaporkan adanya tren penurunan kasus keracunan menjelang akhir 2025. Inilah yang menjadi dasar optimisme BGN menargetkan nol insiden pada 2026.
Namun, pernyataan bernuansa religius soal “garansi Allah” justru memicu tafsir liar di ruang publik, seolah negara melepaskan tanggung jawab teknis kepada keyakinan semata.
Respons Publik yang Terbelah
Reaksi masyarakat pun terbelah. Sebagian menilai pernyataan itu sebagai bentuk kerendahan hati dan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Namun, sebagian lain menganggap pernyataan tersebut tidak tepat disampaikan dalam konteks kebijakan publik yang menyangkut keselamatan anak-anak.
Isu ini semakin membesar setelah diberitakan oleh berbagai media nasional. Terlepas dari kontroversi kalimat “Allah yang garansi”, BGN menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk lepas tangan. Nanik menekankan bahwa lembaganya tetap bertanggung jawab penuh melakukan pengawasan dan perbaikan berkelanjutan.
Menanti Realisasi Target Nol Keracunan 2026
Publik kini menanti, apakah target nol keracunan MBG 2026 benar-benar dapat terwujud melalui perbaikan sistem yang konkret, atau justru menjadi janji besar yang sulit dipenuhi. Satu hal yang pasti, pernyataan ini telah menempatkan BGN di bawah sorotan tajam, bukan hanya soal capaian target, tetapi juga soal bagaimana negara menyampaikan tanggung jawabnya atas keselamatan pangan bagi generasi muda.
Artikel Terkait
Barang Pribadi Pramugari Esther Ditemukan di Lokasi Jatuhnya Pesawat IAT di Gunung Bulusaraung
Gaji Guru Honorer vs Sopir MBG: Viral Video Protes Kesenjangan Gaji 2026
Prabowo Cabut Izin PT Toba Pulp Lestari: Daftar 28 Perusahaan & Penyebab Lengkap
Pesawat ATR Jatuh di Maros: Basarnas Yakin Tak Ada Korban Selamat, Tetap Harap Mukjizat