“Dalam situasi ini, negara yang tidak punya strategi akan terseret, dan negara yang tidak punya ketahanan akan menjadi objek," ujarnya. Indonesia ditegaskan tidak boleh berada dalam posisi pasif tersebut.
Politik Luar Negeri Bebas Aktif dengan Pendekatan Realistis
Sugiono menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia tetap berpijak pada prinsip bebas aktif. Namun, prinsip ini tidak bisa dijalankan secara kaku di tengah perubahan global yang cepat.
Diplomasi Indonesia perlu diarahkan pada kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme. “Diplomasi yang realistis bukan bermakna meninggalkan nilai, tapi menyesuaikan pendekatan dengan ancaman dan peluang yang berkembang," jelasnya.
Menghadapi Realitas Global Tanpa Ilusi
Menlu Sugiono mengingatkan bahwa ancaman saat ini tidak datang dalam bentuk tunggal dan krisis bisa terjadi bersamaan. Pengaruh dinamika global, cepat atau lambat, akan terasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus melihat dunia apa adanya, keras, kompetitif, dan semakin tidak terprediksi. Oleh karena itu, diplomasi kita harus dibangun atas kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme," pungkas Sugiono.
Artikel Terkait
Susno Duadji Pertanyakan Misi Rahasia Bandara Kertajati Jadi Pangkalan Militer AS
Reshuffle Kabinet 8 Juni 2026: Chatib Basri Siap Gantikan Purbaya Jadi Menteri Keuangan?
Bocah SD Tewas Bersimbah Luka di Sragen, Polisi Buru Pelaku Kekerasan
Islah Bahrawi Terima Pesan Teror dan Dibuntuti OTK, Rumah di Madura Didatangi Oknum TNI