“Dalam situasi ini, negara yang tidak punya strategi akan terseret, dan negara yang tidak punya ketahanan akan menjadi objek," ujarnya. Indonesia ditegaskan tidak boleh berada dalam posisi pasif tersebut.
Politik Luar Negeri Bebas Aktif dengan Pendekatan Realistis
Sugiono menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia tetap berpijak pada prinsip bebas aktif. Namun, prinsip ini tidak bisa dijalankan secara kaku di tengah perubahan global yang cepat.
Diplomasi Indonesia perlu diarahkan pada kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme. “Diplomasi yang realistis bukan bermakna meninggalkan nilai, tapi menyesuaikan pendekatan dengan ancaman dan peluang yang berkembang," jelasnya.
Menghadapi Realitas Global Tanpa Ilusi
Menlu Sugiono mengingatkan bahwa ancaman saat ini tidak datang dalam bentuk tunggal dan krisis bisa terjadi bersamaan. Pengaruh dinamika global, cepat atau lambat, akan terasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus melihat dunia apa adanya, keras, kompetitif, dan semakin tidak terprediksi. Oleh karena itu, diplomasi kita harus dibangun atas kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme," pungkas Sugiono.
Artikel Terkait
Viral Kontainer iPhone di Laut Jawa: Hoax AI atau Fakta? Ini Analisis Ahli Logistik
Wajib Pajak Didenda Rp26,5 Juta Protes Standar Ganda Aturan Pajak, Ini Kronologinya
Demo Buruh 15 Januari 2026: Tuntutan UMP DKI Rp5,89 Juta & UU Ketenagakerjaan Baru
Sidang Ijazah Jokowi: Oegroseno Bongkar Kejanggalan Prosedur dan Perbedaan Dokumen di PN Solo