Jika konflik berkepanjangan dan harga energi global tetap tinggi, Indonesia berpotensi menghadapi beberapa dampak ekonomi serius, yaitu:
- Lonjakan Subsidi Energi: Beban APBN untuk subsidi BBM dan LPG akan membengkak secara signifikan.
- Defisit Anggaran Melebar: Belanja negara, terutama untuk energi, akan meningkat lebih cepat daripada penerimaan.
- Tekanan pada Rupiah: Kebutuhan dolar AS untuk impor energi yang lebih besar dapat melemahkan nilai tukar rupiah.
- Potensi Inflasi: Jika harga energi disesuaikan, biaya transportasi dan produksi akan naik dan berpotensi memicu inflasi.
Langkah Antisipasi yang Diperlukan
Jusuf Kalla menekankan pentingnya penyesuaian kebijakan fiskal sejak dini untuk meminimalisir dampak konflik global terhadap ekonomi domestik. Langkah konkret yang disarankan adalah dengan meninjau ulang program belanja negara.
"Anggaran harus dilihat lagi, mana yang prioritas dan mana yang bisa ditunda," jelasnya. Pemerintah didorong untuk memprioritaskan belanja pada sektor-sektor yang benar-benar mendesak dan strategis untuk menjaga kesehatan fiskal Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri