Harga Minyak US$ 100: Ancaman Lonjakan BBM Subsidi & Dampaknya ke APBN

- Selasa, 24 Maret 2026 | 08:50 WIB
Harga Minyak US$ 100: Ancaman Lonjakan BBM Subsidi & Dampaknya ke APBN

Harga Minyak Tembus US$ 100, Ancaman Lonjakan Konsumsi BBM Subsidi Mengintai

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov, memperingatkan bahwa tren kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus level US$ 100 per barel berpotensi memicu penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri.

Disparitas Harga Melebar, Konsumsi BBM Subsidi Terancam Melonjak

Dengan kondisi tersebut, disparitas atau selisih harga antara BBM subsidi (seperti Pertalite) dan BBM nonsubsidi diperkirakan akan semakin melebar. Hal ini berpotensi mendorong peralihan konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi yang lebih murah, sehingga menciptakan tekanan baru pada kuota yang telah ditetapkan pemerintah.

Pada tahun 2026, kuota BBM subsidi yang ditetapkan adalah Pertalite sebesar 29,7 juta kiloliter, solar subsidi 18,6 juta kiloliter, dan LPG subsidi mencapai 8,3 juta metrik ton. Namun, dengan potensi lonjakan permintaan, risiko konsumsi berlebih dinilai semakin besar.

“Pemerintah akan menghadapi ancaman lain, yaitu terjadinya konsumsi yang eksesif dari masyarakat," kata Abra dalam program Investor Market Today di Beritasatu TV, Selasa (24/3/2026).

Fenomena Panic Buying dan Beban Anggaran Subsidi


Halaman:

Komentar