PSI vs JK: Konflik Penistaan Agama, Mundurnya Ade Armando, dan Dampaknya pada Citra Partai

- Jumat, 08 Mei 2026 | 00:50 WIB
PSI vs JK: Konflik Penistaan Agama, Mundurnya Ade Armando, dan Dampaknya pada Citra Partai

Alih-alih meredakan situasi, langkah JK justru dianggap sebagai tantangan. Laporan terhadap JK atas dugaan penistaan agama pun dinyatakan tidak akan dicabut. Proses hukum dibiarkan berjalan. Akibatnya, 40 organisasi Islam berkumpul di rumah JK dan melaporkan Ade Armando, Grace Natalie, serta Permadi Arya, membuat situasi semakin memanas.

Untuk menghindari keterkaitan dengan PSI, Ade Armando memilih mundur dari partai tersebut. Meskipun PSI sendiri tidak menganggap tindakan Ade Armando sebagai pelanggaran aturan partai, Grace Natalie—yang merupakan wajah PSI—ditegaskan tidak akan didampingi secara hukum. PSI rela melepaskan dua ikon utamanya demi menjauhkan citra partai dari kasus ini. Sementara itu, Permadi Arya atau Abu Janda bukanlah kader PSI, dan PSI serius ingin melepaskan diri dari citra anti-Islam.

Ade Armando sempat menyatakan bahwa tindakannya dan PSI adalah bagian dari satu strategi, namun ia cepat merevisi pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa ini murni dari hati. Ia tidak ingin nama baik PSI rusak karena dirinya. Namun, apakah strategi ini akan berhasil masih menjadi tanda tanya.

Citra keislaman JK sangat kuat. Jika serangan terhadap JK bukan soal penistaan agama, mungkin ceritanya akan berbeda. JK adalah alumni HMI, Ketua Dewan Masjid Indonesia, tokoh perdamaian konflik Poso dan Ambon, serta berasal dari suku Bugis-Makassar. Tuduhan sebagai penista agama tidak hanya salah alamat, tetapi juga dianggap tidak masuk akal. Siapa yang percaya?


Halaman:

Komentar