Tweet Ramalan 2022 Viral Usai WHO Konfirmasi Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar
MULTAQOMEDIA.COM - Sebuah unggahan lama di platform X (sebelumnya Twitter) dari tahun 2022 kembali viral setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Isi tweet tersebut membuat banyak netizen merinding karena dianggap berhasil "memprediksi" kemunculan virus ini pada tahun 2026.
Akun X dengan nama pengguna @iamasoothsayer, yang memiliki bio "reads the future", menulis cuitan singkat pada tahun 2022: "2023: Corona ended / 2026: Hantavirus." Kini, unggahan tersebut meledak di media sosial dengan ratusan ribu likes, puluhan ribu repost, quote, dan komentar setelah kasus Hantavirus menjadi sorotan dunia.
Fenomena ini langsung memicu beragam reaksi di jagat maya. Banyak pengguna internet mengaku merinding karena waktu kemunculan kasus Hantavirus dianggap sangat "tepat" dengan isi tweet lama tersebut.
Sebagian netizen bahkan melontarkan teori konspirasi. Ada yang menuding tweet tersebut sebagai "planned disclosure", sementara lainnya bercanda bahwa akun itu "tahu masa depan".
Namun, banyak pengguna lain mencoba bersikap lebih rasional. Mereka menilai kemunculan tweet lama yang terasa relevan dengan peristiwa besar dunia sebenarnya adalah fenomena umum di internet. Banyak prediksi beredar setiap tahun, tetapi hanya yang kebetulan tepat yang kemudian viral.
"Ini bukan ramalan. Hantavirus sudah lama dikenal ilmuwan," tulis salah satu pengguna X.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus bukanlah virus baru. Nama virus ini berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Virus tersebut pertama kali diidentifikasi secara ilmiah pada tahun 1978 oleh ilmuwan Ho Wang Lee.
Artikel Terkait
Kasus Cabul Santriwati: Ashari Ditangkap, Pengacara Bongkar Adanya Oknum Kiai Pati
Bareskrim Selidiki Laporan Jusuf Kalla: Tudingan Dana Rp5 M untuk Isu Ijazah Jokowi
Amien Rais Sebut Menko Curi Curi Curhat Susah Temui Prabowo karena Terhalang Teddy Indra Wijaya
Harga Minyakita Tembus Rp22 Ribu, Pengamat Ekonomi Soroti Tanggung Jawab Kemendag dan Kemenko Pangan