Penemuan itu terkait kasus demam berdarah dengan sindrom ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang tentara selama Perang Korea.
Hantavirus termasuk dalam keluarga Hantaviridae dan umumnya menyebar melalui urine, feses, atau air liur hewan pengerat seperti tikus. Manusia bisa terinfeksi saat menghirup partikel udara yang terkontaminasi.
Sebagian besar jenis Hantavirus tidak menular antar-manusia. Namun, varian Andes virus yang ditemukan di Amerika Selatan diketahui memiliki kemungkinan penularan antarmanusia meski sangat jarang terjadi.
WHO Konfirmasi Kasus di Kapal Pesiar
Kasus terbaru yang membuat Hantavirus kembali menjadi sorotan terjadi di kapal pesiar MV Hondius. WHO melaporkan adanya klaster kasus yang melibatkan penumpang dan kru dari 23 negara.
Kapal tersebut berangkat dari Ushuaia, Argentina, dan kini diisolasi di lepas pantai Cape Verde sebelum menuju Spanyol.
Menurut laporan awal WHO, terdapat sekitar 7 hingga 8 kasus yang teridentifikasi, termasuk tiga kematian. Dugaan sementara mengarah pada strain Andes virus.
Paparan awal diduga berasal dari kontak dengan hewan pengerat di wilayah pelabuhan atau pulau di Amerika Selatan yang sempat disinggahi kapal.
WHO menegaskan risiko global masih rendah dan situasi ini bukan pandemi baru seperti COVID-19. Hingga kini belum ada obat spesifik untuk Hantavirus sehingga penanganan lebih difokuskan pada terapi suportif untuk gejala pernapasan dan gangguan ginjal.
WHO juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari kontak dengan tikus atau area yang terkontaminasi kotoran hewan pengerat.
Artikel Terkait
Kasus Cabul Santriwati: Ashari Ditangkap, Pengacara Bongkar Adanya Oknum Kiai Pati
Bareskrim Selidiki Laporan Jusuf Kalla: Tudingan Dana Rp5 M untuk Isu Ijazah Jokowi
Amien Rais Sebut Menko Curi Curi Curhat Susah Temui Prabowo karena Terhalang Teddy Indra Wijaya
Harga Minyakita Tembus Rp22 Ribu, Pengamat Ekonomi Soroti Tanggung Jawab Kemendag dan Kemenko Pangan