MULTAQOMEDIA.COM - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang kembali mencuatkan wacana bahasa asing dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Setelah sebelumnya menggaungkan bahasa Portugis, kini Prabowo menginstruksikan bahasa Prancis masuk ke pelajaran sekolah. Namun, hingga saat ini, wacana bahasa Portugis belum juga terealisasi.
Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, menilai pernyataan Presiden Prabowo mengenai bahasa asing berpotensi menimbulkan kesan kurang terencana jika tidak diikuti dengan implementasi yang jelas dan konkret.
“Kalau Pak Presiden setiap kunjungan ke luar negeri lalu memberikan pernyataan yang kesannya hanya basa-basi diplomasi semata, ini justru terkesan tidak terencana,” ujar Satriwan saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (29/5).
Ia mengingatkan bahwa wacana memasukkan bahasa Portugis ke dalam struktur kurikulum sekolah pernah disampaikan Prabowo tahun lalu saat menyambut Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di Istana Kepresidenan Jakarta. Hingga kini, wacana tersebut belum terwujud.
“Pernyataan Pak Presiden tahun lalu yang akan memasukkan bahasa Portugis ke dalam struktur kurikulum di sekolah-sekolah itu saja belum terealisasi sampai hari ini. Sekarang sudah menambah lagi soal bahasa Prancis ke dalam kurikulum Indonesia,” tegas Satriwan.
Ia menegaskan bahwa kebijakan pendidikan tidak dapat dibuat secara mendadak tanpa landasan yang matang. “Tidak bisa membuat kebijakan pendidikan itu semaunya, tidak bisa juga sifatnya mendadak tanpa ada perencanaan yang jelas, dan tanpa ada dasar secara filosofis, pedagogis, maupun sosiologis,” tuturnya.
Artikel Terkait
Mitsubishi Destinator: SUV 7 Penumpang dengan 11 Storage Kabin untuk Keluarga Modern
Pimpinan Padepokan Padang Ati Tersangka Kekerasan Seksual Santriwati, Bantah Tuduhan dan Terancam 12 Tahun Penjara
Raffi Ahmad Plontos Usai Haji, Momen Haru Cukur Rambut dan Nasihat Bahlil Lahadalia
Viral! Pulau Katang Kepri Dijual Rp65 Miliar, Begini Faktanya Menurut Pemerintah