Ia menghancurkan wajah Yuvita hingga buta permanen. Tulang-tulangnya retak, kulitnya robek. Tubuh perempuan berusia 29 tahun itu menjadi kanvas penuh luka menganga yang tak pernah sembuh.
Ini bukan amarah sesaat. Ini adalah pesta sadisme yang direncanakan dengan dingin oleh jiwa yang mati, jauh dari Tuhan. Taufik tidak hanya menyiksa fisik, ia menghancurkan jiwa korban.
Ia mengisolasi Yuvita total dari keluarga, memutus segala komunikasi, dan menjadikannya budak pribadi yang tak boleh melawan. Ia merampok habis-habisan: motor, ponsel, laptop, emas, tabungan BPJS, bahkan menggunakan identitas Yuvita untuk membobol pinjaman online. Sementara korban meringkuk kesakitan, monster ini tertawa menikmati hasil jarahan.
Psikolog mana pun akan muntah melihat profilnya. Pola klasik pelaku kekerasan berantai. Sebelumnya, ia sudah menyiksa mantan istrinya dengan kejam, meski belum sampai level kegilaan ini. Setelah bebas dari penjara karena kasus penganiayaan, ia tidak berubah. Justru semakin haus darah.
Debt collector yang terbiasa mengintimidasi orang demi uang, menemukan kenikmatan tertinggi saat menghancurkan seorang perempuan yang pernah mempercayainya. Ini bukan manusia dengan trauma masa lalu yang butuh bantuan. Ini adalah binatang buas berakal yang sengaja memilih jalan kegelapan. Ia melihat perempuan sebagai objek kepemilikan yang boleh dihancurkan, diinjak, dan dibuang seperti sampah.
Bayangkan rasa sakit Yuvita setiap hari. Setiap pukulan yang mendarat, setiap sayatan yang mengoyak daging, setiap malam kesepian dalam kegelapan buta. Sementara Taufik tidur nyenyak dengan perut kenyang hasil rampokan. Sungguh jiwa yang begitu hitam dan busuk, hingga neraka pun mungkin malu menerimanya.
Pada 23 Juni 2026, ia akhirnya ditangkap di Majalaya setelah buron. Namun, tangkapan itu terlambat. Luka yang ia tinggalkan sudah terlalu dalam, terlalu keji, dan terlalu tak termaafkan.
Taufik adalah aib terbesar. Semoga hukum menghantamnya dengan amarah setara siksaan yang ia berikan. Karena makhluk seperti dia pantas merasakan setiap jenis penderitaan, kesakitan, dan kehancuran yang pernah ia timpakan. Tanpa ampun. Tanpa ampun. Tanpa belas kasih. Selamanya.
Artikel Terkait
Didik J Rachbini: Jika Ijazah Jokowi Palsu, Banyak Pihak Bisa Dihukum Pidana
Nadiem Makarim Putar Video Jokowi di Sidang: Bukti Arahan Presiden soal Digitalisasi Pendidikan
Skandal Suap Rp20 Juta BEM UBK: Daftar Harga dan Pengakuan Wakil Ketua
Sekjen Peradi Bersatu: Ada Orang Kuat di Balik Bebasnya Roy Suryo, Sindir Langsung Angkat Jadi Menteri