MULTAQOMEDIA.COM – Aksi viral yang menjadikan Al-Quran sebagai syarat tantangan untuk mendapatkan minuman keras (miras) di booth sponsor The Sounds Project menuai kecaman keras dari berbagai kalangan. Salah satu suara lantang datang dari Ustaz Hilmi Firdausi yang menilai aksi tersebut telah melampaui batas dan masuk dalam kategori penistaan agama.
Ustaz Hilmi Firdausi menjadi salah satu tokoh yang merespons tegas insiden ini. Dalam pernyataannya, ia secara langsung menyoroti pihak Newport, brand minuman keras yang booth-nya menjadi lokasi kejadian. Ia menegaskan bahwa promosi yang menukar hafalan ayat suci dengan miras merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi.
"Untuk brand miras Newport, kalian sudah kelewatan, membuat promosi hafal ayat Al-Quran ditukar sama Miras," ujar Ustaz Hilmi melalui akun X, dikutip Selasa (11/8/2026).
"Segera klarifikasi dan minta maaf. Ini sudah masuk ranah penistaan agama!" tegas pemuka agama tersebut.
Kontroversi ini semakin meluas karena akar permasalahannya bukan sekadar aktivitas di booth festival musik. Para pengkritik menilai persoalan inti terletak pada penggunaan bacaan Al-Quran sebagai bagian dari tantangan yang hadiahnya berupa minuman beralkohol. Surah Ad-Dhuha, yang merupakan bagian dari Al-Qur'an, disebut dilantunkan oleh peserta dalam tantangan tersebut.
Potongan video aksi tersebut kemudian menyebar cepat di media sosial dan memicu beragam reaksi warganet. Banyak yang mempertanyakan bagaimana mungkin kitab suci ditempatkan dalam konteks promosi minuman keras, sebuah tindakan yang dinilai sangat tidak pantas dan menyinggung umat Islam.
Artikel Terkait
Trump Umumkan Kesepakatan Bersejarah Hamas, Netanyahu Langsung Menolak: Sandiwara Perdamaian Timur Tengah yang Absurd
Yaqut Cholil Qoumas Bantah Terima Rp1 dari Korupsi Kuota Haji: Dakwaan Jaksa KPK Hanya Asumsi
UGM Buka Suara soal Skripsi Jokowi: Cetak Sebagian Halaman di Luar Kampus Hal Lumrah di Era 1980-an
Kronologi Terakhir Sutrimo Sebelum Meninggal: Kirim Foto Makanan dan Duduk di Depan Rumah Febrie Adriansyah