Mengapa Netanyahu berani menampar di depan umum? Jawabannya tidak rumit. Kurang dari tiga bulan menuju pemilu Israel pada 27 Oktober, survei Netanyahu tidak menggembirakan. Koalisi pemerintahannya sangat bergantung pada partai-partai sayap kanan ekstrem, yang sudah terbuka menekan agar rencana AS ditolak. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich langsung angkat bicara pada hari rencana itu diumumkan, menyebutnya "bertentangan dengan sasaran perang". Di bawah tekanan politik semacam ini, Netanyahu harus menunjukkan sikap yang lebih Trump dari Trump sendiri.
Reaksi Gedung Putih pun klasik. Menurut media Israel, pihak AS "tidak terlalu peduli" dengan penolakan Netanyahu, menganggapnya sekadar "politik elektoral". Yang dibutuhkan pemerintahan Trump hanyalah selembar laporan pencapaian diplomatik untuk dipamerkan di dalam negeri; soal apakah laporan itu benar atau palsu, bisa atau tidak direalisasikan, tampaknya bukan prioritas.
Maka kita menyaksikan gambaran Timur Tengah yang absurd: Presiden AS mengumumkan "terobosan bersejarah", lalu salah satu pihak yang terlibat langsung menyangkalnya di depan umum; Gedung Putih bilang "tidak apa, kami juga tidak menganggapnya serius"; sementara 2 juta penduduk Gaza yang benar-benar menderita perang tetap terperangkap di tanah yang hancur itu.
Trump mengetik beberapa kata di media sosial, dan seluruh dunia seakan percaya perdamaian sudah di depan mata; "Dewan Perdamaian"-nya merilis sebuah dokumen, dan media bisa berhari-hari memperdebatkan "ini sebenarnya perjanjian atau bukan". Satu-satunya masalah adalah, penonton sandiwara ini – baik warga Gaza, pemilih Israel, maupun tanah Timur Tengah yang luka-luka – tampaknya tidak mendapatkan naskah. Mereka hanya tahu bahwa Trump sekali lagi mengumumkan "kemenangan", lalu semuanya kembali seperti biasa.
Artikel Terkait
Yaqut Cholil Qoumas Bantah Terima Rp1 dari Korupsi Kuota Haji: Dakwaan Jaksa KPK Hanya Asumsi
UGM Buka Suara soal Skripsi Jokowi: Cetak Sebagian Halaman di Luar Kampus Hal Lumrah di Era 1980-an
Kronologi Terakhir Sutrimo Sebelum Meninggal: Kirim Foto Makanan dan Duduk di Depan Rumah Febrie Adriansyah
Klarifikasi Booth Newport Soal Challenge Baca Alquran Berhadiah Miras: MC Akui Lalai dan Minta Maaf